Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Budidaya Sayuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Sayuran. Tampilkan semua postingan

Budidaya Dan Pemeliharaan Paprika

Diposkan Oleh Unknown on Selasa, 12 Maret 2013 | 12.54

Pendahuluan
Tanaman cabai pada umumnya mempunyai rasa pedas, namun paprika merupakan salah satu varietas cabai yang tidak mempunyai rasa yang pedas. Cabai manis (Capsicum annum var. grossum)atau paprika merupakan tanaman hortikultura yang baru dikenal di Indonesia. Umumnya paprika dipakai untuk penyedap masakan luar negeri seperti cah paprika daging sapi, paprika campur sosis, udang jeroan, atau disiram saos keju, paprika segar bisa juga dijadikan salad. Dengan meningkatnya kebutuhan paprika dan pasar yang jelas maka diperlukan pengembangannya.

Persiapan
Hal yang perlu dipersiapkan dalam budidaya hidroponik paprika yaitu : media, wadah, nutrien/pupuk, rumah plastik (green house) dan
irigasi.
Media semai terdiri dari campuran pasir, sekam bakar, kompos, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1:1. Media tersebut perlu disterilkan sebelum ditanami. Sterilisasi diperlukan untuk menghindari serangan hama dan penyakit yang masih ada dalam media semai. Media tanam yang dapat digunakan untuk hidroponik paprika adalah arang sekam, cocopit, grodan.
Wadah persemaian dapat berupa tray plastik yang berukuran 24 x 30 cm dan tinggi 5 cm, pot atau polybag berdiameter 7-10 cm dan tinggi 6-7 cm. Untuk wadah penanaman digunakan polybag berukuran 50x40 cm.
Nutrien yang diperlukan terdiri dari unsur hara makro dan mikro. Nutrisi yang digunakan dapat dibuat sendiri ataupun membeli .yang sudah siap pakai. Salah satu formulasi yang digunakan oleh PT. Saung Mirwan adalah berupa larutan stok A, stok B dan stok C. Masing-masing stok terdiri dari unsur :
*       Stok A:
-    0,918 Kg KN03
-    21,6 Kg Ca(N03)2
-    378 g (DPTPA)
*       Stok B:
-    0,783 Kg H2P04
-    17,064 Kg KN03
-    9,99 Kg MgS04
-    4,59 Kg KH2PQ4
-    45,9g MnS04
-    64,8 g/Kg/mi Borax
-    5,4 g CUS04
-    3,24g NaMo
*       Stok C:
-   145 g Urea
Masing-masing stok dilarutkan dalam 90 It air lalu disimpan dalam drum plastik yang berkapasitas 100 It. Apabila hendak dilakukan penyiraman, dari masing-masing stok diambil 1 liter dan campurkan ke dalam drum yang telah berisi 297 liter air. Volume campuran menjadi 300 It dan siap dipompa untuk dialirkan/disiramkan ke tanaman rumah plastik untuk persemaian dan pertanaman baik dengan sistem irigasi manual maupun irigasi tetes.

Pemeliharaan
Dalam budidaya paprika secara hidroponik, pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman dan pemupukan, pembentukan dan pemilihan batang produktif, pengajiran dan pelilitan, pewiwilan, serta pengendalian hama dan penyakit.
1. Penyiraman dan pemupukan
Penyiraman dan pemupukan dapat dilakukan secara manual atau secara irigasi tetes. Pemberian larutan hara dilakukan antara pukul 09.00 - 16.00. Frekuensi pemberian sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setiap hari.
Jumlah kebutuhan larutan
-      Fase muda sebanyak 100 ml
-      Fase berbunga sebanyak 150 ml
-      Fase berbuah sebanyak 200-300 ml
-      Fase dibongkar sebanyak 100 ml
Larutan hara yang diberikan hendaknya kepekatannya berkisar antara 1,6 - 1,7 dan diharapkan peningkatannya hanya 2,0 - 2,5 saat dalam media arang sekam. Peningkatan EC (Electric Conductivity) terjadi sebab adanya kristalisasi garam-garam yang tidak terserap oleh tanaman. Pengukuran EC ini penting karena dapat berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan tanaman. Apabila EC rendah, maka pertumbuhan vegetatif tanaman akan lebih cepat dibandingkan dengan EC tinggi.
2.   Pembentukan dan pemilihan batang produktif
Pada umur 3 minggu atau di atas daun ke 10,
pilih 2 cabang utama yang kuat, cabang yang tidak diinginkan dipotes dengan tangan.
3.   Pengajiran dan pelilitan
Tanaman paprika yang dibudidayakan secara hidroponik harus diberi penopang agar diperoleh bentuk tanaman yang sesuai dengan kegiatan produksi secara maksimal. Pembuatan ajir dimulai saat tanaman berusia 1 minggu. Penopang/ajir bisa terbuat dari tali rami atau tali lainnya yang tidak tajam. Ujung atas tali diikatkan pada kawat horizontal yang dibuat secara khusus pada batang atas greenhouse, setiap tanaman memerlukan dua buah penopang/ajir karena batang utama yang dipelihara ada dua. Tanaman paprika akan terus tumbuh semakin tinggi mengikuti ajir. Agar tali ajir tetap melekat pada batang tanaman, maka setiap dua hari harus dilakukan pemutaran atau pelilitan pada cabang utama.
Cara pemutaran yang baik yaitu dengan memutar batang mengikuti tali, bukan tali yang dililitkan mengikuti batang. Pemutaran dilakukan searah jarum jam agar seragam dan mudah dilakukan.
4.    Pewiwilan atau perompesan
Pewiwilan dilakukan terhadap tunas air, cabang yang tidak dipelihara, bunga yang telah layu, dan buah yang rusak. Umumnya kegiatan pewiwilan dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemutaran tali atau pelilitan ajiryaitu setiap 2 hari sekali.
5.    Pengendalian hama dan penyakit
Hama yang sering menyerang adalah thrips, tungau, aphids, ulat grayak, keong serta penyakit yang sering menyerang adalah penyakit layu, bercak daun, embun tepung, antraknose dan virus.
6.    Panen
Paprika mulai dipanen pertama kali saat berumur 60 HST. Pemanenan ini dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu :
a.   Matang hijau; warna buah hijau mengkilap, daging buah keras dan tebal, buah mudah dilepas dari tangkai, sehat dan tidak cacat, serta bebas dari hama dan penyakit. Kekerasan dan ketebalan buah dapat diketahui dengan cara memijit dan mengetuknya.
b.  Matang berwarna; warna buah 60 % sudah merah/ kuning/ hijau (untuk ekspor), daging buah tebal, sehat dan tidak cacat, serta bebas dari hama dan penyakit.

Budidaya Cabe Merah

 Pendahuluan
Cabe merah (Capsicum annum)merupakan salah satu komoditas unggulan yang bernilai ekonomis tinggi serta mempunyai prospek pasar yang menarik dan sebagai bumbu masak kaya vitamin A, C serta kalsium yang tinggi. Tanaman ini dapat dibudidayakan di dataran tinggi maupun rendah, dilahan sawah ataupun dilahan kering/tegalan, tanpa memerlukan persyaratan agroklimat yang terlalu khusus.
Untuk mencegah terjadinya fluktuasi produksi dan fluktuasi harga yang sering merugikan petani, maka perlu diupayakan budidaya yang dapat berlangsung sepanjang tahun antara lain dengan cara mengatur pola tanam di masing-masing sentra produksi khususnya di Jawa Barat. Sehingga dapat memenuhi permintaan pasar dan diharapkan harga selalu stabil.

Benih

Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman cabe merah yang baik, diperlukan mutu benih yang baik dengan syarat antara lain : diketahui varietas dan identitas keunggulannya, kemurnian, seragam, daya tumbuh tinggi yaitu ± 80%, berlabel merah jambu atau benih bersertifikat.
Varietas cabe merah yang sering digunakan adalah Papirus, CTH-01, Paris Minyak, TM 999, Arimbi, Prabu, Jatilaba, Hot Beauty, Long Chili, Hot Chili, Hero, TM 888, Tit Super, Cabe Merah Kering Super, dll.

Syarat Tumbuh
Budidaya cabe merah dapat dilakukan dari ketinggian 0 - 1300 meter diatas permukaan laut dan mempunyai bulan basah berkisar  antara 3 - 9 bulan dengan curah hujan optimal 100 - 200 mm/bin, temperatur antara 18° - 27° C, untuk pembuahan 15° - 21°C.
Tanah yang baik untuk menanam cabe merah adalah tanah yang banyak mengandung humus, gembur, remah, tidak terlalu liat dan tidak terlalu porous dengan pH berkisar 5,5 - 6,8. Di tanah yang berat seperti alluvial dan grumosol juga dapat dilakukan budidaya cabe merah dengan tersedianya air dan drainase yang memadai.

Teknik Budidaya

Persemaian
Pengolahan tanah dicampur dengan pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 1:1:1.
Untuk penanaman seluas 1 ha diperlukan guludan lahan persemaian seluas 15 m2, dengan lebar dan panjang guludan disesuaikan dengan kebutuhan.
Atap naungan dibuat miring ke barat dan menghadap ke timur.
Penanaman bibit dapat dilakukan dengan cara disebar  secara merata atau dibuat lajur-lajur (larikan) dengan jarak tanam 20 - 30 cm dan kedalaman 0,5 - 1 cm. Sebelum bibit disebar sebaiknya tanah dibasahi terlebih dahulu. Bibit yang telah disebar ditutup dengan tanah kemudian tutup dengan karung, kurang lebih selama 3-5 hari, bila telah tumbuh tunas dan terlihat pertumbuhan merata maka tutup karung tersebut dibuka.
Pemeliharaan persemaian meliputi : penyiraman, pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit,
Pembubunan dilakukan 1-2 minggu setelah penyebaran bibit atau setelah keluar 2-3 daun. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan 3-4 minggu setelah dibumbun atau 1,5 bulan setelah bibit disebar .
Dengan adanya persemaian diharapkan dapat dipilih bibit yang pertumbuhannya baik, sehat dan seragam untuk dikembangkan di areal pertanaman.

Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan untuk pertanaman dengan melakukan pengolahan tanah baik dengan cangkul maupun memakai alat dan mesin, agar struktur tanah menjadi gembur. Kemudian dibuat bedengan dengan lebar 1 m dan tinggi 20-50 cm dan jarak antar bedengan 20-30 cm.
Jika pH rendah dapat diberi kapur dolomit sebanyak 2 ton/ha. Pemberian kapur ini dapat bersamaan dengan pemberian pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) dengan dosis 15 ton/ha.
Permukaan bedengan ditabur dengan pupuk urea 300 kg, SP 36 250 - 300 kg dan 250 kg KCL, aduk rata rapikan kembali permukaan bedengan.
Seluruh permukaan bedengan kemudian disiram hingga lembab, kemudian tutup bedengan dengan mulsa hitam perak. Kebutuhan mulsa hitam perak adalah 12rol/hektar.

Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP)
Penggunaan MPHP dilakukan agar dapat meningkatkan hasil terutama pada musim kemarau, karena mulsa dapat mempertahankan struktur tanah tetap gembur, memelihara kelembaban dan suhu tanah, mengurangi kehiiangan unsur hara dan menekan pertumbuhan gulma.
Cara pemasangan MPHP:
Pemasangan MPHP dilakukan pada saat terik matahari agar memudahkan plastik mengembang dan mudah ditarik. Jangan memasang mulsa plastik pada saat mendung.
Tebarkan MPHP di atas bedengan, warna perak menghadap atas dan warna hitam menghadap tanah.
Siapkan bilah penjepit bambu yang dibentuk menyerupai huruf U.
Dua orang memegang kedua ujung MPHP di masing- masing ujung bedengan. Dua orang lainnya saling berhadapan di masing-masing sisi bedengan untuk memasang MPHP.
Tarik kuat-kuat MPHP ke arah bawah hingga terasa mengembang kuatkan/tancapkan bambu penjepit di masing-masing sisi bedengan. Pemasangan bertahap dan satu ujung bedengan hingga ujung berikutnya. Biarkan ± 3 (tiga) hari, baru kemudian dibuat lubang tanam sesuai dengan jarak tanam.

Penanaman
Penanaman dilakukan pada setiap lubang tanam yang telah disiapkan dengan jarak tanam 50x60 cm dalam barisan dan 60x70 cm antar barisan. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim kemarau atau akhir musim penghujan pada pagi atau sore hari. Umur bibit ketika dipindahkan hendaknya mencapai 4-6 minggu, penanaman dilakukan tegak lurus dengan sedikit ditekan di sekeliling batang kemudian  disiram  tetapi  jangan  sampai  becek.

Pemeliharaan
Penyulaman paling lambat 1-2 minggu setelah tanam (dengan seseragam mungkin) untuk mengganti bibit yang mati atau sakit agar sasaran produksi optimal dapat dicapai.
Penyulaman paling lambat 1-2 minggu setelah tanam (dengan seseragam mungkin) untuk mengganti bibit yang mati atau sakit agar sasaran produksi optimal dapat dicapai.
Pembumbunan dan penyiangan dilakukan secara bersamaan, dilakukan setiap 2 (dua) minggu tergantung banyaknya tumbuhan pengganggu .

Hama dan Penyakit
Hama yang sering mengganggu adalah lalat buah, ulat penggulung, kutu daun. Sedangkan penyakitnya adalah busuk buah (Callectotricum nigrum), gugur daun (Oideum sp), busuk daun.
Pengendalian hama dan penyakit dengan bayrusil 25 EC, Diazinon 60 EC dengan dosis 1-2 cc racun per liter air, pengendalian penyakit dengan Dithane M-45, Antracol 70 WP dengan dosis 0,2%. Pemberian air dapat dilakukan pada pagi hari dan sore hari, baik pada tanaman dipersemaian maupun dilapang, dengan cara curah/disiram atau dengan di leb secara temporer diantara bedengan (hingga persediaan air dialirkan pada daerah perakaran lalu air dialirkan kembali/dikeringkan). Perlu diperhatikan pemberian air  jangan  tergenang,  karena akan menimbulkan penyakit.

Panen
Tanaman cabe merah sudah dapat dipanen pada umur 90-120 hari setelah penanaman bibit, pertama dilakukan setelah buah berwarna merah, dengan cara dipilih/dipetik yang sudah cukup tua. Pemanenan berikutnya dapat dilakukan setiap 3-4 hari sekali.

Pasca Panen
Sortasi/pemilihan buah yang baik diperlukan sebelum cabe dipak untuk dipasarkan atau dikeringkan. Sortasi dilakukan dengan tangan. Cabe dibersihkan dari segala kotoran seperti sisa-sisa daun, ranting- ranting tanah. Cabe yang kurang sehat sebaiknya  dibuang/dipisahkan.
Pengeringan
Pengeringan dilakukan bila akan diolah menjadi produk cabe oiahan, menghasilkan cabai kering yang bermutu dipilih cabai yang benar-benar merah segar dan sehat (tidak busuk).

Budidaya Tomat

Diposkan Oleh Unknown on Minggu, 10 Maret 2013 | 17.31

PENDAHULUAN
Tanaman tomat merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura bernilai ekonomis tinggi, untuk itu cara menanam tomat yang baik perlu diperhatikan. Cara menanam tomatperlu dilakukan secara intensif agar produksi optimal. Tanaman tomat termasuk komoditas multiguna, selain berfungsi sebagai sayuran dan buah, tomat juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar kosmetik serta obat-obatan.
Berdasarkan tipe pertumbuhannya, tanaman tomatdibedakan menjadi dua, yaitu determinate dan indeterminate. Tipe determinate memiliki postur tanaman pendek, tandan bunga terletak di setiap ruas batang serta di ujung tanaman. Sedangkan tipe indeterminate, postur tanaman tinggi, tandan bunga terletak berseling di antara 2-3 ruas, ujung tanaman tomat tumbuh pucuk muda. Tanaman tomat tipe indeterminate berbuah besar.


SYARAT TUMBUH TANAMAN TOMAT


 PELAKSANAAN TEKNIS BUDIDAYA TOMAT
Tanaman tomat memerlukan curah hujan antara 100-220 mm/hujan dengan ketinggian tempat optimal 100-1000 mdpl. Intensitas sinar matahari berkisar antara 10-12 jam per hari. Suhu optimal pertumbuhan tanaman tomat berkisar 25-30°C, sedangkan proses pembungaan membutuhkan suhu malam hari 15-20°C. Air sangat dibutuhkan oleh tanaman tomatkarena 90% kandungan tomat terdiri dari air. Lokasipenanaman tomat sebaiknya bukan bekas lahan tanaman tomat atau tanaman sefamili. Minimal sudah diberakan selama 2 tahun agar diperoleh hasil optimal.
Pengukuran pH tanah diperlukan untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran bisa menggunakan kertas lakmus, pH meter, atau cairan pH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag.


PELAKSANAAN BUDIDAYA TOMAT


Persiapan Lahan Budidaya Tomat

Persiapan lahan budidaya tomat meliputi pembajakan dan penggaruan tanah, Pembuatan bedengan kasar selebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm dan lebar parit 50-70 cm, pemberian kapur pertanian sebanyak 200 kg/rol mulsa PHP (Plastik Hitam Perak) untuk tanah dengan pH di bawah 6,5, pemberian pupuk kandang fermentasi sebanyak 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP, kemudian dilakukan pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah, persiapan selanjutnya pemasangan mulsa PHP, pembuatan lubang tanam dengan  jarak tanam ideal untuk musim kemarau 60 cm x 60 cm sedangkan musim penghujan bisa diperlebar 70 cm x 70 cm, kemudian dilakukan pemasangan ajir. Pemasangan ajir dianjurkan dengan sistem ajir tegak supaya kelembaban tanaman tomat terjaga, masing2 ajir dihubungkan gelagar. Agar serangkaian ajir tersebut menjadi kuat, ajir paling pinggir dan setiap 4 ajir dipasang ajir penguat membentuk sudut ±  45°.


Persiapan Pembibitan dan Penanaman Budidaya Tomat

Persiapan pembibitan budidaya tomat membutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media campuran dimasukkan ke dalam polibag semai. Sebelum melakukan penyemaian benih, sebaiknya benih direndam dalam larutan fungisida sistemik berbahan aktifsimokanil atau metalaksil dengan dosis ½ dosis terendah yang dianjurkan pada kemasan selama ± 6 jam, baru kemudian benih disemai di media. Untuk mempercepat perkecambahan benih permukaan media ditutup kain goni (bisa menggunakan mulsa PHP), dijaga dalam keadaan lembab.
Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai jam 07.00 - 09.00, dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi.  Penyemprotan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktifimidakloprid dilakukan umur 10 hss (hari setelah semai) dengan dosis ½ dosis terendah. Bibit berdaun sejati 4 helai siap dipindah tanam ke lahan.


PEMELIHARAAN TANAMAN PADA BUDIDAYA TOMAT


Penyulaman Budidaya Tomat

Penyulaman budidaya tomat dilakukan sampai umurtanaman tomat 2 minggu. Tanaman tomat yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit.

Perempelan dan Pengikatan Tanaman Pada Budidaya Tomat
Perempelan tunas samping tanaman tomat dilakukan sampai pembentukan cabang, baik cabang utama, cabang kedua, ketiga dan seterusnya di atas cabang utama. Jadi, di atas cabang utama, cabang dipelihara adalah cabang-cabang produktif. Perempelan tunas samping dilakukan pada semua tunas yang keluar di ketiak daun, baik di bawah cabang utama maupun di bawah cabang-cabang produktif. Perempelan tunas di bawah cabang utama bertujuan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman agar tanaman tomat tumbuh kekar, disamping itu juga menjaga kelembabantanaman tomat saat tanaman sudah dewasa, sedangkan perempelan tunas di bawah cabang-cabang produktif bertujuan menjaga kelembaban tanaman tomat dan mengoptimalkan produksi.
Perempelan daun tanaman tomat di bawah cabang utama dilakukan saat tajuk tanaman tomat telah menutupi seluruh daun bagian bawah, saat ini daun sudah tidak berfungsi secara optimal, justru sangat disenangi  hama penyakit tanaman. Perempelan daun juga dilakukan bagi daun tua/terserang penyakit.


Sanitasi Lahan dan Pengairan Pada Budidaya Tomat

Sanitasi lahan pada budidaya tomat meliputi : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan, pemangkasan daun serta pencabutan tanaman tomat terserang hama penyakit.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.


Pemupukan Susulan Pada Budidaya Tomat

Pupuk akar diberikan dengan cara pengocoran pada umur 15 hst, 25 hst dan 35 hst dengan dosis 3kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman tomat diberikan 200ml.
Pupuk daun kandungan Nitrogen tinggi diberikan pada umur 7 hst dan 24 hst, sedangkan pupuk daun kandungan Phospat, kalium dan mikro tinggi diberikan umur 20 hst, 30 hst dan 45 hst. Dosis/konsentrasi penyemprotan sesuai petunjuk pada kemasan.


PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN TOMAT


HAMA TANAMAN TOMAT


1.      Ulat Tanah
Ulat tanah  tanaman tomat adalah Agrotis ipsilon. Hama jenis ini menyerang tanaman tomat di malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Ulat tanah menyerang batang tanaman muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan ulat pemotong. Cara pengendaliannya dengan pemberianinsektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

2.      Ulat Grayak
Ulat grayak tanaman tomat adalah Spodoptera litura. Ulat grayak menyerang daun tanaman tomat bersama-sama dalam jumlah sangat banyak, ulat ini biasanya menyerang di malam hari dengan cara memakan daun dan buah tomat. Gejala pada daun berupa bercak-bercak putih berlubang, sedangkan buahnya ditandai adanya lubang tidak beraturan di setiap permukaan buah. Pengendalian kimiawimenggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

3.      Ulat Buah
Ulat buah tanaman tomat adalah Heliotis armigera. Bagian tubuh hama ini diselimuti kutil. Ulat menyerangtanaman tomat  dengan cara mengebor buah sambil memakannya sehingga buah terserang berlubang. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

4.      Kutu Daun
 Kutu daun tanaman tomat adalah Myzus persiceae. Kutu mengisap cairan tanaman tomat terutama daun muda, kotorannya berasa manis sehingga menggundang semut. Serangan parah menyebabkan daun mengalami klorosis (kuning), menggulung dan mengeriting, akhirnya tanaman tomat menjadi kerdil. Pengendalian kimiawi menggunakaninsektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis sesuai petunjuk pada kemasan. 

5.      Kutu Kebul
Kutu kebul tanaman tomat adalah Bemisia tabaci. Hama berwarna putih, bersayap dan tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Kutu kebul menyerang dan menghisap cairan sel daun tanaman tomat sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis sesuai petunjuk pada kemasan.

6.      Lalat Buah
Lalat buah tanaman tomat adalah Dacus dorsalis. Lalat betina dewasa menyerang buah tomat dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah tomat, kemudian telur berubah menjadi larva, telur-telur ini akhirnya menggerogotibuah tomat sehingga buah tomat menjadi busuk. Pengendalian lalat buah dapat menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan botol aqua yang diikatkan pada bambu dengan posisi horisontal, atau dapat pula menggunakan buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil.  Selain itu, dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis sesuai petunjuk pada kemasan.

7.      Nematoda
Nematoda tanaman tomat adalah Meloidogyne incognita. Serangan nematoda ditandai adanya bintil-bintil pada akar. Nematoda merupakan cacing tanah berukuran sangat kecil, hama ini merupakan cacing parasit penyerang bagian akar tanaman tomat. Bekas gigitan cacing akhirnya menyebabkan serangan sekunder, seperti layu bakteri, layu fusarium, busuk phytopthora atau cendawan lain penyerang akar. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.
  

PENYAKIT TANAMAN TOMAT


1.      Rebah Semai
Rebah semai tanaman tomat adalah Pythium debarianum. Rebah semai biasa menyerang tanaman tomatpada fase pembibitan dan tanaman muda setelah pindah tanam. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf. Dosis ½ dosis terendah yang tertera pada kemasan.

2.      Layu Bakteri
Bakteri penyebab layu tanaman tomat adalahPseudomonas sp. Penyakit ini sering menggagalkan tanaman,tanaman tomat terserang mengalami kelayuan daun, diawali dari daun-daun muda. Upaya pengendalian antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman tomat terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin. Dosis/konsentrasi sesuai pada kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma pada saat persiapan lahan, umur 20hst dan 35 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat dengan dosis sesuai anjuran pada kemasan.

3.      Layu Fusarium
Cendawan penyebab layu tanaman tomat adalahFusarium oxysporum. Tanaman tomat terserang mengalami kelayuan dimulai daun-daun tua, kemudian menyebar ke daun-daun muda dan menguning. Upaya pengendaliannya dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman tomat terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai pada kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma pada saat persiapan lahan, umur 20hst dan 35 hst dilakukan pengocoran dengan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat dengan dosis sesuai anjuran pada kemasan.

4.      Busuk Phytopthora
Penyakit busuk tanaman tomat adalah Phytopthora infestans. Penyakit ini dapat menggagalkan budidaya tomatkarena menyerang semua bagian tanaman. Batang terserang ditandai bercak coklat kehitaman dan kebasah-basahan. Serangan serius menyebabkan tanaman tomat layu. Daun tomat terserang seperti tersiram air panas. Buah terserang ditandai bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian kimiawi menggunakanfungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil atau dimetomorf dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah tembaga, mankozeb, propineb, ziram,  atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

5.      Bercak Bakteri
Bercak bakteri tanaman tomat adalah bakteriXanthomonas vesicatoria, berkembang pesat terutama pada musim hujan. Serangan ditandai adanya bercak berwarna gelap mengkilap. Pengendalian kimiawi menggunakanbakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktifkasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin, atau dari golongan anorganik seperti tembaga. Dosis/konsentrasi sesuai pada kemasan.

6.      Bercak Daun Septoria
Penyakit ini disebabkan oleh serangan cendawanSeptoria lycopersici. Cendawan menyerang semua fase pertumbuhan. Gejala serangan berupa bercak-bercak berwarna coklat yang akhirnya berubah keabu-abuan pada permukaan daun bagian bawah, tepi daun berwarna hitam. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, danfungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai pada kemasan.

7.      Lunak Bakteri
Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri Erwinia carotovora. Serangan pada daun ditandai adanya bercak berair disertai perubahan warna daun menjadi kecoklatan, terutama daun segar, serangan pada batang menyebabkantanaman tomat roboh. Pengendalian kimiawi menggunakanbakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktifkasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin, atau dari golongan anorganik seperti tembaga. Dosis/konsentrasi sesuai pada kemasan.

8.      Virus
Virus merupakan penyakit yang paling banyak menggagalkan budidaya tomat. Virus tanaman tomatdiantaranya ToMV, PVX, TMV dan CMV. Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama pada musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai pertumbuhan tanaman tomat mengerdil, daun mengeriting dan terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit virus ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya thrips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama saat perempelan.
Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma (gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkantanaman tomat terserang virus, kebersihan alat dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman tomat.

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADABUDIDAYA TOMAT

Pengendalian hama ulat tanah dan nematoda dilakukan secara bersamaan cukup satu kali pemberian insektisida, yaitu 1gram per lubang tanam.
Pengendalian hama ulat grayak, ulat buah, kutu daun, kutu kebul, lalat buah dan penyakit menggunakan pestisidaharus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap melakukan penyemprotan (jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut).


PANEN
Tomat tipe determinite dapat dipanen pada umur 65 hst dan tipe indeterminate umur 75 hst. Buah 25% masak siap untuk dipanen.

Budidaya Terong

Diposkan Oleh Unknown on Kamis, 07 Maret 2013 | 11.47


SYARAT TUMBUH TANAMAN TERONG

Tanaman terong tumbuh hampir di setiap jenis tanah dengan kisaran pH 5-6. Tanaman ini memerlukan air yang cukup untuk menopang pertumbuhannya. Ketinggian tempat untuk tanaman terong antara 1-1200 mdpl dengan suhu optimal 18°-25°C.


PERSIAPAN TEKNIS BUDIDAYA TERONG

Derajat keasaman tanah (pH) perlu diukur untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pemberian kapur pertanian berfungsi menetralkan pH tanah (pH 7) atau setidaknya mendekati netral.  Pengukuran dilakukan menggunakan kertas lakmus, PH meter, atau cairan PH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag.


PELAKSANAAN BUDIDAYA TERONG


Persiapan Lahan Budidaya Terong

Persiapan lahan budidaya terong meliputi pembajakan dan penggaruan tanah, Pembuatan bedengan kasar selebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm dan lebar parit 50-70 cm, pemberian kapur pertanian sebanyak 200 kg/rol mulsa PHP (Plastik Hitam Perak) untuk tanah dengan pH di bawah 6,5, pemberian pupuk kandang fermentasi sebanyak 20 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP, kemudian dilakukan pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah, persiapan selanjutnya pemasangan mulsa PHP, pembuatan lubang tanam dengan  jarak tanam ideal untuk musim kemarau 60 cm x 60 cm sedangkan untuk musim penghujan bisa diperlebar 70 cm x 60 cm, kemudian dilakukan pemasangan ajir.

Persiapan Pembibitan dan Penanaman Budidaya Terong

Persiapan pembibitan budidaya terong membutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media campuran dimasukkan ke dalam polibag semai. kemudian benih disemaikan pada polibag. Untuk mempercepat perkecambahan benih permukaan media ditutup menggunakan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP), dijaga dalam keadaan lembab.
Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai am 07.00 - 09.00, dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dan dilakukan setiap pagi.  Penyemprotan denganfungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid pada umur 15 hss (hari setelah semai) dengan dosis ½ dosis terendah. Bibit berdaun sejati 4 helai siap pindah tanam ke lahan.


PEMELIHARAAN TANAMAN TERONG


Penyulaman Budidaya Terong

Penyulaman budidaya terong dilakukan sampai dengan umur tanaman 2 minggu. Tanaman yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit.

Perempelan dan Pengikatan Tanaman Budidaya Terong

Perempelan tunas samping pada tanaman terongdilakukan sampai pembentukan cabang, baik cabang utama, cabang kedua, ketiga dan seterusnya di atas cabang utama. Jadi di atas cabang utama, cabang dipelihara adalah cabang-cabang produktif, dimana cabang-cabang produktif ini selalu diikuti dengan munculnya bunga. Perempelan tunas samping dilakukan pada semua tunas yang keluar di ketiak daun, baik di bawah cabang utama maupun di bawah cabang-cabang produktif. Perempelan tunas di bawah cabang utama bertujuan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman agar tanaman terong tumbuh kekar, disamping itu juga menjaga kelembaban pada saat tanaman terong sudah dewasa, sedangkan perempelan tunas dibawah cabang-cabang produktif bertujuan menjaga kelembaban tanaman serta mengoptimalkan produksi.
Perempelan daun di bawah cabang utama dilakukan pada saat tajuk tanaman terong telah menutupi seluruh daun bagian bawah, pada saat ini daun sudah tidak berfungsi secara optimal, justru sangat disenangi  hama penyakit tanaman. Perempelan pada daun juga dilakukan bagi daun tua/terserang penyakit.

Sanitasi Lahan dan Pengairan Budidaya Terong

Sanitasi lahan pada budidaya terong meliputi : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan, perempelan daun, pencabutan tanaman terong yang terserang hama penyakit.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.

Pemupukan Susulan Budidaya Terong

Pupuk yang digunakan pada pemupukan susulan meliputi pupuk akar dan pupuk daun. Pupuk akar diberikan dengan cara pengocoran yaitu saat tanaman terong berumur 15 hst dan 30 hst berikan 3kg NPK 15-15-15 kemudian larutkan dalam 200lt air, larutan ini dapat digunakan untuk 1000 tanaman dan masing-masing  tanaman terong diberikan 200ml. Pada umur 45 hst dosisnya 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman dan masing-masing  tanaman terong diberikan 200ml. Sedangkan pada umur 60 hst dan 75 hst, dosisnya 5kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman dan tiap tanaman terong 200ml.
Pupuk daun dengan kandungan Nitrogen tinggi diberikan umur 14 hst dan 21 hst. Sedangkan kandungan Phospat, Kalium, mikro tinggi diberikan umur 30 hst dan 60 hst.


PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN TERONG


HAMA TANAMAN TERONG


Ulat Tanah

Ulat tanah menyerang tanaman terong malam hari, siang harinya bersembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa PHP.Ulat tanah menyerang batang tanaman terong yang masih muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Ulat Grayak

Ulat grayak menyerang daun tanaman terong dalam jumlah sangat banyak, ulat ini biasanya menyerang pada malam hari. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Ulat Buah

Ulat buah menyerang terong dengan cara mengebor buah sambil memakannya. Buah yang terserang akhirnya berlubang. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Kutu Daun

Kutu daun mengisap cairan tanaman terong terutama pada daun muda. Kotoran kutu daun berasa manis sehingga menggundang semut. Daun terong yang terserang mengalami klorosis (kuning), menggulung, mengeriting, akhirnya tanaman terong menjadi kerdil. Pengendalian kimiawi menggunakaninsektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, tiametoksam, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Kutu Kebul

Kutu kebul berwarna putih, bersayap dan tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Kutu kebul menyerang serta menghisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Kumbang Kuning

Tanaman terong menjadi inang dari kumbang kuning, kumbang berwarna kuning dengan seluruh tubuh diselimuti seperti duri. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Lalat Buah

Lalat buah menyerang buah terong dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah, kemudian telur berubah menjadi larva, telur-telur inilah yang akhirnya menggerogoti buah terong sehingga buah menjadi busuk.Pengendalian lalat buah dapat menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan pada botol aqua yang diikatkan pada bambu dengan posisi horisontal, atau dapat pula menggunakan buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil.  Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.


PENYAKIT TANAMAN TERONG


Rebah Semai

Rebah semai biasa menyerang tanaman terong pada fase pembibitan. Pengendalian kimiawi menggunakanfungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dengan dosis ½ dari dosis terendah yang tertera pada kemasan.

Layu Bakteri

Penyakit ini sering menggagalkan tanaman, Serangannya disebabkan oleh bakteri. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman terong yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakanbakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktifkasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Layu Fusarium

Gejala yang ditimbulkan layu fusarium hampir sama dengan  layu bakteri, yang membedakan hanyalah penyebabnya. Layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur.Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman terong yang terserang, melakukan penggiliran tanaman sertapenyemprotan kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Busuk Phytopthora

Busuk phytopthora menyerang semua bagian tanaman terong. Batang yang terserang ditandai bercak coklat kehitaman dan kebasah-basahan. Serangan serius menyebabkan tanaman terong layu. Daun terong yang terserang seperti tersiram air panas. Serangan pada buah ditandai adanya bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidroklorida, simoksanil, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram,  atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Bercak Daun

Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri, berkembang pesat terutama pada musim hujan. Serangan ditandai adanya bercak putih dan bersudut karena dibatasi tulang daun. Kemudian bercak berubah menjadi cokelat kelabu serta bagian bawah daun mengeluarkan cairan, akhirnya daun mengering. Pengendalian kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin, atau dari golongan anorganik seperti tembaga. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Antraknosa

Antraknosa sering juga diistilahkan dengan nama patek. Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman terong, ditandai dengan adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, lalu berubah menjadi cokelat tua sampai kehitaman. Semakin lama bercak melebar dan menyatu akhirnya daun mengering. Gejala lain adalah bercak bulat memanjang berwarna kuning atau cokelat. Buah terong yang terserang akan nampak bercak agak bulat dan berlekuk berwarna cokelat tua, disini cendawan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Virus

Virus sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama pada musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai dengan pertumbuhan tanaman mengerdil, daun mengeriting serta terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya kutu kebul, kutu daun, thrips, tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama pada saat perempelan. Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma (gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman terongterserang virus, kebersihan alat serta memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukanpenanganan tanaman terong.

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT PADA TANAMAN TERONG

Penyemprotan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap melakukan penyemprotan, jangan menggunakan bahan aktifyang sama secara berturut-turut. Tanaman terong merupakan tanaman yang tahan terhadap serangan hama penyakit, sehingga penyemprotan dapat dilakukan 1 minggu sekali atau sesuai kebutuhan. Jadi penggunaan pestisida dapat dihemat.


PANEN

Buah terong dapat dipanen saat tanaman terongberumur 55 hst. Buah yang dipanen adalah buah muda, warna buahnya belum memudar. Untuk menjaga kondisitanaman terong agar tetap sehat, pada saat pemanenan gunakan alat seperti gunting, sabit, pisau atau sejenisnya supaya bekas potongan tidak mudah terserang penyakit terutama pada musim hujan.

Tanaman Buah

Artikel Lainnya »

Hewan Peliharaan

Artikel Lainnya »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Aneka Ragam Budidaya - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger