Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Budidaya Tanaman Buah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Tanaman Buah. Tampilkan semua postingan

Budidaya Nanas

Diposkan Oleh Unknown on Selasa, 12 Maret 2013 | 17.33


Tanaman nenas dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan merata sepanjang tahun dengan jumlah antara 1.000 - 2.000 Mm pertahun serta suhu optimum 32o C. Tanaman ini tumbuh dengan baik di daerah dengan ketinggian 100 - 200 M dari permukaan laut, tetapi pada keadaan tertentu dapat juga tumbuh dengan baik pada ketinggian 1200 M dpl. Pada daerah-daerah yang merupakan iklim C dan D tanaman nenas dapat tumbuh baik pada daerah yang merupakan irigasi teknis.
Tanaman nenas tumbuh baik pada tanah yang gembur, tidak tahan genangan air, lebih-lebih di daerah basah dengan tanah liat yang tergenang air cukup lama, tanaman nenas akan tumbuh merana. Untuk daerah kering diperlukan sistem pengairan yang baik dan air tanah tidak lebih dari 150 Cm dari permukaan laut. Tanah yang cocok untuk budidaya nenas adalah tanah dengan tekstur ringan (pasir) dan sedang serta mengandung humus yang banyak dengan pH sekitar 4,5 - 5,5 untuk tanah podsolik dengan kandungan litany tinggi, nenas bisa tumbuh dengan diimbangi pemupukan intensif dan penggunaan pupuk organik yang tinggi.
·         Pemeliharaan:
·         Pemupukan;
Pemupukan merupakan satu aspek penting dari kegiatan usaha tani nenas karena erat kaitannya dengan peningkatan produksi. Pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk an-organik seperti Urea, TSP/Sp-36 dan KCI maupun pupuk organik seperti pupuk kandang dan kompos. Dosis pupuk untuk tanaman nenas, sebagai berikut:
Dosis Pupuk Per Ha/Tahun
Urea (Kg)
Sp-36 (Kg)
KCI (Kg)
Pupuk Kandang/ Kompos (Kg)
225
125
300
20
Pemupukan dengan pupuk an-organik (Urea, SP-36 dan KCI) dilakukan 2 kali dalam setahun. Sedangkan pupuk organik (kandang/ kompos) diberikan satu kali dalam setahun pada awal musim penghujan.
Cara pemberian pupuk an-organik diberikan dengan cara mencampur ke-tiga pupuk lalu ditaburkan pada parit sedalam 10 - 15 Cm disekeliling tanaman, kemudian parit ditutup kembali dengan tanah. Pupuk organik diberikan dengan cara ditebarkan pada larikan/ parit disekeliling batang tanaman dengan kedalaman 15 - 20 Cm pada jarak 25 - 50 Cm dari pangkal tanaman/ rumpun dan ditutup kembali dengan tanah.
·         Penyiangan;
Penyiangan dilaksanakan setiap 3 bulan sekali sebelum dilakukan penyiangan, daun-daun harus diikat sehingga penyiangan tidak terganggu oleh daun-daun yang berduri. Bersamaan dengan penyiangan tanah perlu digemburkan agar akar-akar tanaman mendapatkan udara yang cukup, setelah pekerjaan penyiangan selesai, ikatan-ikatan daun dilepas sedangkan untuk tanah-tanah yang datar di daerah beriklim basah perlu dibuatkan parit drainase.
·         Penjarangan anakan;
Penjarangan anakan diperlukan untuk dapat menghasilkan buah berukuran besar secara teratur selama beberapa kali panen. Penjarangan anakan dari tunas akar sebaiknya dilakukan secara teratur setelah 3 - 4 musim panen tanaman nenas biasanya tidak dibongkar tetapi tunas anakannya dibiarkan tumbuh. Tunas lain dibuang atau digunakan sebagai bibit. Kelangsungan produksi dari induk ke tunas anakan ini dibiarkan berlangsung terus sampai kira-kira lima tahun, setelah umur lima tahun tanaman nenas dibongkar dan diganti tanaman baru.
·         Pengendalian organisme pengganggu;
·         Penyakit busuk hati (hert rot) dan busuk akar (root rot)
·         Gejala, daun tanaman yang terserang cendawan phytoptora Sp. mengalami klorosis, daun muda mudah dicabut, pembusukan dapat meluas ke batang tanaman serta menyebabkan busuk akar sehingga pertumbuhan terhambat dan pematangan buah tertunda.
·         Pengendalian, sebelum tanaman bibit dicelup dalam suspensi fungisida sanitasi kebun dari tanaman yang sakit dan sisa tanaman yang sakit dan sisa tanaman sebelumnya harus bersih.
·         Penyakit busuk pangkal (base rot)
·         Gejala, serangan cendawan carato cystis paradora pada bibit mengakibatkan busuk lunak berwarna coklat pada pangkalnya. Pada daun timbul bercak-bercak putih kekuningan. Infeksi buah batang mengakibatkan buah busuk.
·         Pengendalian, untuk mencegah terjadinya infeksi melalui bekas potongan pada pangkal buah diberikan perlakuan asan limzoat 10 % dalam etarol. Dilakukan pemotongan buah.

·         Pengairan dan penutupan tanah;
Pengairan harus diatur sedemikian rupa sehingga air tidak menggenang. Pengairan diperlukan pada waktu penumpukan sekitar rumpun tanaman nenas dapat diberi penutup tambahan (mulsa) seperti jerami, daun-daun dan sebagainya.
·         Penggunaan ZPT;
Tanaman nenas dapat dipaksa untuk berbunga pada setiap saat, yakni dengan memberikan zat kimia yang berfungsi sebagai hormon pembungaan. Zat kimia yang sering digunakan adalah kalsium karbit dan ethrel. Selain itu juga digunakan hormon akar seperti IAA, IBA dan NAA. Teknik pembungaan buatan dilakukan ke dalam titik tumbuh tanaman nenas pada pagi-pagi sekali dan sore hari untuk mengurangi reaksi panas dan kemudian disemprotkan dengan air dingin diatasnya. Selain itu dapat pula tanaman disemprotkan dengan larutan ethrel 70 - 200 ppm, karena ethrel ini pada pH rendah dalam sel tanaman akan terurai menjadi estilin yang dapat berfungsi sebagai hormon pembungaan. Untuk mendapatkan produksi yang tinggi, sebaiknya sewaktu diberi zat kimia tanaman telah berumur 6 bulan atau jumlah daun sekitar 20 - 30 helai.
·         Panen;
Pada umumnya nenas dapat di panen setelah berumur 12 - 15 bulan tergantung bibit yang digunakan. Buah nenas yang siap di panen dapat diketahui dari :
·         Mahkota jadi lebih terbuka;
·         Tangkai buah menjadi keriput;
·         Mata duri lebih mendatar dan besar serta bertulang lebih bulat;
·         Warna buah mulai menguning;
·         Timbul aroma nenas yang harum.

Budidaya Durian

Pendahuluan
Durian (Durio Zibethinus Murr) termasuk dalam familia Bombaceae.Berasal dari daerah tropis di Asia (Malaysia) kemudian menyebar ke Asia Tenggara dan berbagai belahan dunia. Pada musim buah durian, berbagai varietas dan tipe diperdagangkan di berbagai pasar dalam negeri. Untuk pasar luar negeri, penyuluhan rekomendasi varietas unggul serta promosi masih perlu ditingkatkan sesuai permintaan pasar. Demikian pula peningkatan adopsi dan aplikasi teknologi budidaya durian di sentra produksi dalam upaya peningkatan mutu buah.
Pesaing Indonesia sebagai penghasil buah durian adalah Thailand dan Malaysia. Sentra produksi durian di Indonesia adalah Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat (Tabel 1). Varietas durian yang . direkomendasikan untuk dibudidayakan adalah Sunan, Sukun, Petruk, Sitokong, Mas, Kane, Matahari dan Hepe.

Tabel 1. Data Sentra Produksi Durian Utama Tahun 2000

No.
Provinsi
Kabupaten
Luas (H1)
Produksi (Ton)
Bulan Panen
1
Sumatera Utara
- Tapsei
247.75
1.836
9-1


- Asahan
253,01
1.303
8-12
2
Riau
- Indragiri
519,17
6.427
11-1


Hulu
212,36
983
12-1


- Kep. Riau
334,72
3.342



- Kampar



3
Jambi
- Bungo Tebo
320,70
2.723
12-2
. 4
Jawa Barat
-    Bogor
-    Kuningan
421,27 265,50 '
4.814 1.039
13-3
5
Jawa Tengah
- Jepara
240,18
3.303
10-3
6
DI Yogyakarta
- Kulonprogo
213,21
1.686
10-3
7
Jawa Timur
-    Malang
-    Probolingo
-    Pasuruan
247,75 234,40 213,52
3.342 2.983 8.465
1-2
8
Kalimantan Barat
-    Sangau
-    Sintang
309,70 406,10
4.795           
5.796           
1-6

Tanaman durian tumbuh baik di daerah dengan ketinggian< 800 meter diatas permukaan laut (m dpi), dan masih dapat tumbuh pada ketinggian 1.000 m dpi, tetapi produktivitasnya sangat rendah. Membutuhkan iklim basah dengan curah hujan 1.500 - 2.500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun. Waktu pembungaan dan pembuahan dibutuhkan bulan kering selama 3 bulan dengan curah hujan < 60 mm/bulan dengan suhu udara 28° -29° C.
Durian membutuhkan lahan yang tanahnya gembur, subur dan bersolum cukup dalam, serta tanah lapisan bawah tidak berlapis liat yang bersifat kedap air sampai kedalaman 3 meter.

Perbanyakan Tanaman
1. Perbanyakan dengan okulasi/penempelan.
Sebagai entres dipilih tunas yang mempunyai mata-mata yang besar dan sehat dari cabang berumur kira-kira satu tahun. Pengambilan mata tempel dilakukan dengan membuat irisan agak lengkung horizontal diatas mata sepanjang 1 cm dan pada kedua ujung irisan tersebut dibuat irisan vertikal kebawah sepanjang kira-kira 2,5 cm, lalu dikelupas hingga diperoleh  kulit dengan satu mata yang baik dalam bentuk segi empat berukuran 1 x 2,5 cm. Pada batang bawah dikupas kulit kayunya sesuai bentuk dan ukuran mata tempel. Kemudian mata tempel segera ditempelkan. Selanjutnya tempat tempelan dibalut dengan pita plastik dan bagian mata tidak tertutup.
2. Penyambungan/grafting
Batang bawah dipotong sekitar 10 cm dari pangkal batang dan pada bagian atas dibuat keratan bebentuk huruf V sepanjang 2-3 cm. Selanjutnya dipotong batang atas sepanjang 8-10 cm yang memiliki minimal 2 mata tunas. Pangkal tunas dibuat runcing, agar bisa masuk keujung batang bawah, ikat sambungan tersebut dengan tali plastik. Calon benih ini kemudian diberi sungkup plastik, yang sebelumnya disiram dahulu. Sekitar 21 hari kemudian sungkup dibuka.
3. Cangkok
Perbanyak vegetatif dengan cara cangkok sebenarnya dapat dilakukan pada tanaman durian, tetapi benih yang dapat diperoleh sedikit dan dapat merusak bentuk pohon induknya sendiri serta sistem perakarannya tidak kuat karena tidak mempunyai akar tunggang.

Pembuatan Lubang Tanaman
Lubang tanam dibuat berukuran100 x 100 x 100 cm dengan jarak antar lubang 10 -14 m x 10 - 14 m. Saat pembuatan lubang tanam, tanah galian dibagi dua. Tanah galian bagian atas dikumpulkan sebelah kiri dan bagian bawah disebelah kanan lubang, setelah itu didiamkan selama 2 minggu. Sebelum tanah galian dimasukkan kembali, lapisan atas dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 35 kg dan 1 kg pupuk posfat perlubang. Lubang tanam ditutup selama 15 hari, setelah itu digali dengan ukuran sebesar polybag benih. Untuk menghindari gangguan hama, tanah galian dapat dicampur dengan insektisida Furadan 3 G.

Penanaman
Benih yang ditanam di lapangan sebaiknya sudah setinggi 75-150m kondisinya sehat, pertumbuhan batangnya kokoh, perakaran­nya banyak dan kuat. Polybag dilepas dan benih durian dimasukkan ke dalam lubang tanam. Lubang ditutup dengan tanah galian. Selanjutnya pada sisi tanaman didirikan ajir dan batang tanaman di ikat pada a i i r agar pertumbuhan tanaman tegak keatas searah ajir. Tanah di sekeliling batang ditutup rumput atau jerami kering sebagai mulsa, lalu disiram. Benih diberi naungan dari rumbia sebagai pelindung agar tanaman tidak layu atau kering tersengat sinar matahari,

Pemeliharaan
1. Pemupukan
Tabel 2. Rekomendasi Pemupukan

Umur Tanaman
Pupuk Kandang (Pkd) dan NPK
Keterangan
0-3 bin tanam
36 kg Pkd
Diberikan sebelum penanaman pada waktu persiapan lubang
6 bulan
72 Kg Pkd
Disebar mengelilingi tanaman
1 tahun
108 Pkd + NPK 40- 80 g/th
Takaran untuk satu tahun tidak diberikan sekaligus tetapi 3 kali
2 tahun
NPK 150-300 g/th
Sda
3 tahun
NPK 400-600 g/th
Sda
4 tahun dst
Diperkirakan
Tambahan NPK yang diberikan dapat diperkirakan sesuai pertumbuhan diameter pohon. Untuk setiap kenaikan 1 cm diperlukan tambahan pupuk sebanyak 150-200 g/phn
8 tahun
280 kg Pkd + Sda
Sda
10 tahun
360 kg Pkd + sda
Sda

2. Pengairan
Pada awal penanaman durian di lapangan, penyiraman di lakukan setiap hari atau disesuaikan kondisi cuaca. Penyiraman selanjutnya perlu diberikan 1-2 kali seminggu pada musim kemarau, terutama pada saat tanaman berbuah. Jika air sangat berlebihan pada musim hujan, maka harus dibuat drainase yang baik.

3. Pemangkasan Bentuk

  • Pembentukan tajuk mulai diatur sejak tanaman berumur 1 tahun, kira-kira tinggi tanaman 70-100 cm, pembentukan tajuk dilakukan dengan memelihara satu batang utama dan 10 calon pembentukan cabang primer terpilih, dan pembentukan tanaman harus diusahakan supaya terjadi keseimbangan antara bentuk tajuk dengan percabangannya.
  • Pemangkasan dilakukan pada awal musim hujan. Berkas pemangkasan disaput dengan cat meni atau ter.



4. Pengendalian Hama Dan Penyakit
a. Hama Ulat Penggerek Buah

Disebabkan oleh ngengatTirathaba ruptilinea, larvanya berbentuk ulat hitam kecoklatan. Ulat menetas dari telur yang diletakkan pada kulit buah yang kemudian masuk ke daging buah dan menggereknya sampai busuk. Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif deltametrin (contoh ; Decls 2,5 EC) atau
betasiflutrin (contoh ; Buldok 2,5 EC) dengan dosis 1 ml/l 2-3 minggu sekali sejak bunga berubah menjadi pentil buah hingga 2-3 minggu sebelum dipanen. Pengendalian dapat pula dilakukan dengan cara penasapan. Pengasapan dilakukan dengan pembakaran sampah basah 2-3 hari sekai disekltar tanaman dan diupayakan agar sampah tidak sampai terbakar.
b. Penyakit Kanker Batang
Penyebabnya adalah cendawan Phytophthora palmivora dan sering terjadi pada saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. Gejala awal berupa bercak kecil pada cabang, kemudian melebar dan basah karena mengeluarkan blendok/lendir. Kemudian cendawan masuk ke batang serta berubah menjadi coklat tua dan pohon akan mati. Pengendalian dilakukan dengan cara, bercak coklat pada kulit batang dikorek sampai terlihat jaringan kayu yang sehat, kemudian bekas korekan dioles fungisida seperti yang berbahan aktif propamokarb hidroklorida (contoh: Previur N) dengan dosis 2 g/l atau mankozeb (contoh : Ridomil) 3-5 ml/l.


Cara Menanam Apel Dengan Baik

Tanaman apel dapat ditanam di kebun secara campuran dengan tanaman lain (intercroping) maupun secara khusus tidak dicampur dengan tanaman lain (monokultur). Intercroping dapat dilakukan hanya sampai umur tanaman apel 2 tahun atau tanah belum tertutup tajuk-tajuk daun. Tanaman apel tidak dapat ditanam pada jarak yang terlalu rapat, karena akan menjadi sangat rimbun yang akan menyebabkan kelembaban tinggi, sirkulasi udara berkurang, sinar matahari terhambat, dan akan meningkatkan pertumbuhan penyakit.
 
Persiapan kebun
- Sebelum tanam apel, sebaiknya dibuat tata ruang (design) kebun sehingga diketahui secara pasti titik-titik penanaman apel, saluran irigasi/drainase, jalan kebun, dan lain-lain.
- Lalu kebun dibersihkan dari rumput/semak/gulma, sekaligus dilakukan pengolahan tanah.
- Pembuatan lubang tanam diawali dengan pemasangan ajir untuk tanda tempat tanam apel pada kebun. Ajir pertama ditancapkan di salah satu sudut kebun, dengan menggunakan tali ditarik garis untuk menentukan ajir berikutnya sesuai bentuk dan jarak yang telah ditentukan. Bentuk penanaman bisa segiempat atau segitiga.
- Ajir adalah tempat tanam apel, sehingga jarak ajir satu dengan ajir lainnya sama dengan jarak tanam. Jarak tanam yang ideal untuk tanaman apel tergantung varietas. Untuk varietas Manalagi dan Princess Noble adalah 3 x 3,5 m atau 3,5 x 3,5 m, sedangkan varietas Rome Beauty dan Anna lebih rapat 2 x 2,5 m atau 2,5 x 2,5 m atau 3 x 3 m.
 
Pembuatan lubang tanam
- Setelah kebun siap, tahap berikutnya membuat lubang tanam. Lubang tanam sebaiknya dibuat pada akhir musim kemarau.
- Ukuran lubang tanam: lebar : panjang : dalam = 50 x 50 x 50 cm atau 1 x 1 x 1 m.
- Cara membuat lubang tanam: separuh tanah bagian atas ditaruh sebelah kiri lubang dan separuh tanah bagian bawah ditaruh sebelah kanan lubang, sehingga terpisah.
- Masing-masing bagian tanah dicampur dengan pupuk organik (antara lain: pupuk kandang, bokasi, kompos) sebanyak 20 kg atau 2 kaleng minyak.
- Lubang dibiarkan 1 - 2 minggu, baru siap untuk menanam apel.
 
Cara menanam
- Penanaman apel sebaiknya dilakukan pada musim penghujan.
- Penanaman apel dimulai dengan memasukan tanah bagian bawah ke dalam lubang.
- Lalu taruh bibit apel ditengah-tengah lubang sambil diatur akarnya agar menyebar.
- Masukan tanah galian bagian atas kedalam lubang sampai sebatas leher akar, sambil ditekan-tekan secara perlahan dengan tangan agar bibit tertanam kuat dan tegak lurus dengan tanah.
- Bibit diperkuat dengan ajir bambu/kayu dan diikat agar tidak mudah roboh. Ikatan batang bibit dengan ajir agar longgar agar tidak melukai kulit batang dan ikatan dengan simpul hidup menyerupai angka delapan.

Tekhnik Budidaya Jeruk



I. PENDAHULUAN
Prospek agribisnis jeruk di Indonesia cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas. Melalui program peningkatan kualitas sumberdaya petani jeruk serta didukung dengan hasil inovasi teknologi pemupukan dan hormon alami, pengelolaan hama dan penyakit terpadu, serta sistem budidaya lainnya yang semuanya didasarkan pada semangat ramah lingkungan akan meningkatkan Kuantitas dan Kualitas produksi jeruk dengan tetap menjaga Kelestarian lingkungan.

II. SYARAT PERTUMBUHAN
Perlu 6-9 bulan basah (musim hujan), curah hujan 1000-2000 mm/th merata sepanjang tahun, perlu air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus. Temperatur optimal antara 25-30 °C dan kelembaban optimum sekitar 70-80%. Kecepatan angin lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Ketinggian optimum antara 1-1200 m dpl. Jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari. Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat cocok, derajat keasaman tanah (pH tanah) adalah 5,5-6,5 . Air tanah optimal pada kedalaman 150-200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Cara generatif
Biji diambil dari buah dengan memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang. Tanah persemaian diolah sedalam 30-40 cm dan dibuat petakan berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2. Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram larutan POC NASA + 1-2 cc/lt air. Persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1) atau cukup dengan menggunakan tanah biasa disiram POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per 10-15 liter air.

3.1.2. Cara Vegetatif
Metode dengan cara penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (understam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange. Setelah penyambungan tunas pucuk atau penempelan mata tempel, segera disemprot menggunakan POC NASA (3-4 tutup/tangki ) + HORMONIK (1 tutup/tangki ).

3.1.2.1. Pengolahan Media Tanam
Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat dilihat pada data berikut ini: (a) Keprok dan Siem jarak tanam 5 x 5 m; (b) Manis : jarak tanam 7 x 7 m; (c) Sitrun (Citroen) : jarak tanam 6 x 7 m; (d) Nipis : jarak tanam 4 x 4 m; (e) Grape fruit : jarak tanam 8 x 8 m; (f) Besar : jarak tanam (10-12) x (10-12) m.
Lubang tanam dibuat 2 minggu sebelum tanam. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas. Tanah berasal dari lapisan atas dicampur dengan 1-2 kg pupuk kandang dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan.
Pengembangbiakan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari + 1 minggu dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).

3.1.2.2. Teknik Penanaman
Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan: (a) Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan; (b) Pengurangan akar; (c) Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.
Setelah bibit ditanam, siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata dengan dosis ± 1 tutup POC NASA per liter air setiap pohon. Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 (satu) botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap
1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi disiramkan setiap pohon.
Beri mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitar bibit. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang. Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.

IV. PEMELIHARAAN TANAMAN
4.1. Penyulaman
Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.
4.2. Penyiangan
Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.
4.3. Pembubunan
Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.
4.4. Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya. Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.
4.5. Pemupukan Susulan
Umur
(tahun)
Dosis Pupuk Makro (gr/pohon)
Urea
TSP
KCl
1
80
170
170
2
160
325
250
3
250
500
325
4
325
170
425
5
400
210
500
6
500
250
600
7
600
300
700
8
700
325
780
9
780
390
850
10
850
425
900
>10

Sebaiknya dilakukan analisis tanah
Dosis POC NASA mulai awal tanam :
0-3

2-3 tutup/diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang setiap 4-5 bulan sekali (sesekali bisa disemprot ke daun)
>3

3-4 tutup/diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang setiap 3-4 bulan sekali (sesekali bisa disemprot ke daun)

Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dosis 1 botol untuk + 200 pohon. Cara lihat pada Teknik Penanaman (Point 3.1.2.2.)
4.6. Penggunaan Hormonik
Hormonik dapat diberikan terutama setelah tanaman berumur 2 tahun, atau diberikan sejak awal lebih bagus. Caranya melalui penyiraman atau penyemprotan bersama dengan POC NASA (3-5 tutup POC NASA ditambah 1 tutup Hormonik).
4.7.Pengairan dan Penyiraman
Penyiraman jangan berlebih. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.
4.8. Penjarangan Buah
Pada saat pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan, bobot buah serta kualitas buah. Buah yang dibuang meliputi buah sakit, tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama dan sisakan hanya 2-3 buah.
V. Hama dan Penyakit
5.1. Hama
a. Kutu loncat (Diaphorina citri.)
Bagian diserang : tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda. Gejala: tunas keriting, tanaman mati. Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR. Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, buang bagian yang terserang.
b. Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)
Bagian diserang : tunas muda dan bunga. Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa. Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR.
c. Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)
Bagian diserang : daun muda. Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok. Pengendalian: semprotkan dengan PESTONA. Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.
d. Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)
Bagian diserang : tangkai, daun dan buah. Gejala: bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun. Pengendalian: semprotkan PESTONA atau Natural BVR.
e. Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)
Bagian diserang : buah. Gejala: lubang gerekan buah keluar getah. Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi, disemprot PESTONA pada buah berumur 2-5 minggu.
f. Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)
Bagian diserang : tunas, daun muda dan pentil. Gejala: bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis. Pengendalian: semprotkan PESTONA
g. Thrips (Scirtotfrips citri.)
Bagian diserang : tangkai dan daun muda. Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang disertai nekrotis. Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan PESTONA atau Natural BVR.
h. Kutu dompolon (Planococcus citri.)
Bagian diserang : tangkai buah. Gejala: berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur. Pengendalian: gunakan PESTONA. atau Natural BVR. Cegah datangnya semut sebagai vektor kutu.
i. Lalat buah (Dacus sp.)
Bagian diserang : buah yang hampir masak. Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah. Pengendalian: gunakan Perangkap lalat Buah.

5.2. Penyakit
a. CVPD
Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang. Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye. Pengendalian: gunakan bibit tanaman bebas CVPD. Lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan Pestona atau Natural BVR untuk mengendalikan vektor.
b. Blendok
Penyebab: jamur Diplodia natalensis. Bagian diserang : batang atau cabang. Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas. Pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi. Bekas potongan diolesi POC NASA + Hormonik + Natural GLIO. POC NASA dan Hormonik bukan berfungsi mengendalikan Blendok, namun dapat meningkatkan daya tahan terhadap serangan penyakit.
c. Embun tepung
Penyebab: jamur Oidium tingitanium. Bagian diserang : daun dan tangkai muda. Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda. Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
d. Kudis
Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian diserang : daun, tangkai atau buah. Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye. Pengendalian: pemangkasan teratur, gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
e. Busuk buah
Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian diserang : buah. Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit. Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, gunakan Natural GLIO awal tanam
f. Busuk akar dan pangkal batang
Penyebab: jamur Phyrophthora nicotianae. Bagian diserang : akar, pangkal batang serta daun di bagian ujung. Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering. Pengendalian: pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah. gunakan Natural GLIO pada awal tanam
g. Buah gugur prematur
Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yang diserang: buah dan bunga. Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur. Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam
h. Jamur upas
Penyebab: Upasia salmonicolor. Bagian diserang : batang. Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas. Pengendalian: kulit yang terinfeksi dikelupas dan diolesi fungisida yang mengandung tembaga atau belerang, kemudian potong cabang yang terinfeksi.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

VI. Panen
Buah jeruk dipanen saat masak optimal berumur + 28-36 minggu, tergantung jenis/varietasnya. Buah dipetik dengan menggunakan gunting pangkas.

 Sumber : http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-jeruk.html

Tanaman Buah

Artikel Lainnya »

Hewan Peliharaan

Artikel Lainnya »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Aneka Ragam Budidaya - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger