Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Budidaya Tanaman Obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Tanaman Obat. Tampilkan semua postingan

Perbanyakan Benih jahe

Diposkan Oleh Unknown on Selasa, 12 Maret 2013 | 12.05

Pendahuluan
Menurut para ahli, jahe (zingiber officinale, Rosc.) berasala dari Asia tropik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu, ke-dua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe, terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obat tradisional.


Bagian terpenting yang mempunyai nilai ekonomi pada tanaman jahe, adalah akar tongkatnya yang lebih dikenal dengan sebutan rimpang. Jika rimpang tersebut dipotong, nampak warna daging rimpang yang bervariasi, mulai putih kekuningan, kuning atau jingga tergantung pada klonnya. Pada umumnya rasa jahe pedas, karena mengandung senyawa gingerol. Kandungan gingerol dipengaruhi oleh umur tanaman dan agroklimat setempat di mana tanaman jahe tumbuh, sedangkan aroma jahe disebabkan oleh adanya minyak atsiri yang umumnya berwarna kuning dan sedikit kental.
Rimpang jahe mengandung 0,8-3,3 % minyak atsiri dan + 3 % oleoresin, tergantung kepada jahe yang bersangkutan.
Adapun zat-zat yang tergantung di dalam rimpangnya antara lain vitamin A, B dan C, lemak, protein, pati, damar, asam organik, oleoresin, gingerin, zingerol, zingiberin dan feladren.
Salah satu upaya untuk memperoleh rimpang jahe yang tinggi dalam kuantitas dan kualitas adalah dengan pengadaan benih jahe yang tepat, baik dan sehat.

Jenis Jahe

Jahe dapat dibedakan jenisnya dari aroma, warna, bentuk dan besarnya rimpang. Atas dasar hal tersebut, maka telah dikenal 3 (tiga) klon jahe yaitu sebagai berikut :
  1. Jahe besar (Z. officinale Sp) ;
  2. Tipe klon jahe besar di Jawa Barat dikenal dengan sebutan jahe badak dan jahe gajah, sedangkan di Bengkulu dikenal dengan nama jahe kombongan.
    Sesuai dengan sebutannya, jahe besar memang mempunyai rimpang lebih besar dibandingkan ke-dua klon lainnya. Berwarna kuning atau kuning muda, seratnya sedikit dan lembut. Aromanya kurang tajam dan rasanya kurang pedas. Jahe ini mengandung minyak atsiri 0,82-1,68 % dihitung atas dasar berat kering. Penggunaan untuk rempah-rempah, minuman dan makanan.
  3. Jahe kecil (Z. officinale Var. Amarum) ;
  4. Rimpang jahe kecil lebih besar daripada jahe merah, akan tetapi lebih kecil daripada jahe besar. Bentuk agak pipih, berwarna putih, seratnya lembut dan aromanya tidak tajam. Jahe ini mengandung minyak atsiri 1,5-3,3 % dari berat ringannya. Jahe kecil digunakan sebagai bahan baku minuman, rempah-rempah dan penyedap makanan. Di samping jahe kecil, namun masih tetap dalam satu klon adalah jahe kuning yang sering disebut jahe emprit.
  5. Jahe merah (Z. officinale Var. Rubrum) ;
  6. Tipe klon jahe merah sering disebut jahe sunti. Rimpangnya paling kecil dibandingkan ke-dua klon lainnya, berwarna merah sampai jingga muda dan seratnya kasar, aroma tajam dan rasanya sangat pedas. Oleh karena itu, harga jahe merah ini paling mahal bila dibandingkan jahe lainnya. Kandungan minyak atsiri 2,58-2,72 % dihitung atas dasar berat kering. Penggunaannya lebih banyak untuk industri obat-obatan.  
Persyaratan Yang Harus Dipenuhi
Perbanyakan benih jahe dari keluarga zingiberaceae pada umumnya diperbanyak secara vegetatif, dengan memakai potongan-potongan rimpangnya. Secara sepintas cukup mudah mendapatkan bibit jahe, karena di Pasar kecil pun bisa diperoleh. Meskipun demikian, mengingat nilai ekonomis jahe terletak pada rimpang-rimpangnya, maka tidak boleh gegabah dalam memilih bibit. Persyaratan penting yang perlu dipenuhi oleh setiap Penangkar/ Petugas Benih/ Petani jika hasil rimpangnya akan dijadikan benih diantaranya sebagai berikut :

  1. Varietas jelas ;
    Varietas jahe yang akan diperbanyak terlebih dahulu ditetapkan sesuai tujuan produksi. Tanaman jahe yang bertujuan untuk memproduksi rimpang segar, maka varietas jahe besar lebih sesuai dibandingkan dua varietas lainnya, sedangkan untuk membuat rempah-rempah dan minyak atsiri diutamakan varietas jahe merah.
  2. Umur cukup ;
    1. Bahan bibit diambil langsung dari Kebun (bukan dari Pasar jahe konsumsi)
    2. Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 tahun).
    3. Kandungan seratnya tinggi dan kasar, warna kulit mengkilap, menampakkan tanda bertunas serta dipilih pula dari tanaman yang sehat, tidak terluka atau lecet.
  3. Bebas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) ;
    Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus bebas dari OPT, seperti :
    1. Bakteri pseudimonas solanacearum, menyebabkan penyakit layu karena menyerang rimpang dan titik tumbuh. Untuk memusnahkan bakteri yang masih berada di luar kulit, digunakan bakterisida sebelum rimpang di tanam;
    2. Jamur rhizoctonia solani, menyebabkan penyakit layu, menyerang tanaman di lapangan terutama pada musim penghujan. Untuk mengatasi serangan jamur dapat dilakukan penyemprotan secara rutin dengan fungisida seperti cobox dan difolatan;
    3. Hama lalat rimpang mimegralla coerukitrons dan eumerus figurans, tanaman jahe mulai diserang hama ini setelah berumur 5 bulan. Serangan berat mengakibatkan tanaman layu dan kering, bibit rimpang rusak, sehingga rimpang terlihat utuh tetapi didalamnya lapuk seperti gumpalan tanah.
  4. Ukuran bersyarat dan kebutuhan benih ;
    Ukuran bibit stek rimpang sedikitnya memiliki 3 mata tunas, panjang 3-7 Cm dan berat 25-80 Gram tiap potongnya. Sedangkan, kebutuhan bibit per hektar antara 1-3 Ton jahe segar dan kebutuhan tersebut tergantung pada ukuran bibit klon yang dipakai dan jarak tanam yang dipergunakan.
  5. Sortasi, penyimpanan dan pengujian ;
    Untuk mendapatkan benih yang baik diperlukan beberapa tahap perlakukan pada rimpang yang baru di panen, yaitu sebagai berikut :
    1. Sortasi ;
      Setelah tanaman jahe di panen, segera rimpangnya dibersihkan dari tanah maupun kotoran lainnya yang melekat, lalu rimpang-rimpang yang sudah bersih itu ditebar dan dikeringanginkan pada lantai jemur selama 4-6 hari, minimal 4 jam per hari dan setelah itu baru dilakukan sortasi.
      Dasar sortasi adalah penampilan atau bentuk serta ukuran dan warna bibit. Ketika tahap ini dilakukan tidak satu pun rimpang yang tunasnya telah tumbuh. Setelah sortasi didapatkan tiga ukuran rimpang yaitu besar, sedang dan kecil. Juga kondisi rimpang tidak lecet atau memar, bersih dan bebas dari hama dan penyakit. Tujuan sortasi di samping mendapatkan jaminan kepastian mutu bibit juga keaslian maupun keseragaman.
    2. Penyimpanan ;
      Setelah bibit di sortasi, selanjutnya dilakukan penyimpanan. Sebaliknya di cari tempat yang teduh namun kering dan tidak langsung kena sinar matahari guna menyimpan bibit tadi. Cara penyimpanan cukup dengan ditumpuk tapi tetap memperhatikan sirkulasi udara. Penumpukan yang terlalu tebal justru akan merangsang tumbuhnya cendawan.
    3. Pengujian ;
      Perlakuan terakhir adalah pengujian, yang pada umumnya jarang atau tidak pernah dilaksanakan padahal sangat menentukan. Dasar pengujian memperhatikan dua hal yaitu kesehatan bibit dan daya tumbuhnya.
      Bibit yang sehat adalah bibit yang tidak menunjukkan gejala berlendir atau membusuk dan tidak pula terdapat bercak-bercak baik pada kulit rimpang maupun pada bagian dalamnya.
      Pengujian daya tumbuh dilaksanakan dengan pengambilan sampling bibit, kemudian di tanam pada media yang telah disiapkan.Apabila daya tumbuhnya minimal 85 % di mana tunas telah mengeluarkan daun pertama, berarti telah lolos dari tahap pengujian.
  6. Penanaman untuk benih ;
    Untuk memproduksi benih yang bermutu diusahakan di suatu tempat yang memiliki keadaan lingkungan (air, tanah dan keamanan) yang mendukung keberhasilan perbenihan. Pertanaman tersebut memerlukan :
    1. Pengolahan tanah dan pemupukan yang tepat, pupuk kandang 20-25 Ton/ Ha + TSP 200 Kg/ Ha + KCL 60-100 Kg/ Ha;
    2. Pupuk susulan pertama dilakukan pada umur 40-60 HST, di mana diberikan Urea 65-100 Kg/ Ha + KCL 60-100 Kg/ Ha;
    3. Pupuk susulan ke-dua dilakukan pada umur 3 bulan HST, di mana diberikan Urea 65-100 Kg/ Ha;
    4. Penyiraman dilaksanakan pada waktu air tidak mencukupi (tidak turun hujan);
    5. Pemeliharaan dari gangguan OPT;
    6. Penggunaan bahan tanaman yang tidak tercampur kotoran/ varietas lain.
  7. Persemaian sementara ;
    Kegiatan terakhir dalam penanganan benih jahe adalah seleksi benih di persemaian. Semua rimpang benih ditunaskan dahulu dalam persemaian atau tempat yang memenuhi persyaratan untuk memacu pertumbuhan mata tunas. Tempat penunasan harus bersih dan sehat kondisinya dan selalu tersedia air setiap saat untuk penyiraman.
    Salah satu cara menunaskan rimpang adalah menggunakan alang-alang dan jerami kering, dengan cara :
    1. Rimpang disusun berlapis-lapis di antara jerami maksimal 5 lapis;
    2. Penyiraman menurut kebutuhan serta dijaga agar persemaian tetap basah;
    3. Penunasan dianggap cukup bila semua/ sebagian besar tunas sudah tumbuh 1-2 cm;
    4. Rimpang dipotong-potong dengan pisau sesuai ukuran dengan jumlah mata tunas paling sedikit dua;
    5. Benih terpilih direndam dalam larutan agrymicin 0,1 % selama + 10 jam dan dikeringanginkan + 6-10 jam, kemudian ditaburi abu dapur untuk melindungi bekas sayatan pisau dari cuaca dan Organisme Penggangu Tanaman.

Budidaya Temulawak

Pendahuluan
Temulawak (Curcuma xantorrhiza) merupakan tanaman obat yang di daerah Jawa Barat disebut koneng gede, di Madura temu lobak. Tumbuhan temulawak banyak tumbuh secara liar di hutan-hutan, tegalan dan ditanam juga di kebun-kebun atau pekarangan. Umbi temulawak dikenal sebagai obat, sedangkan akarnya yang tua mengandung minyak, cabang akarnya dapat digunakan untuk makanan anak-anak yang mudahdicerna.

Morfologi
Temulawak termasuk tanaman Terne berbatang semu yang tumbuh merumpun, habitusnya dapat mencapai 2-2,5 m, tiap rumpun terdiri atas beberapa anakan (3-9), tiap tanaman memiliki 2-9 helai daun. Daunnya  berbentuk panjang agak lebar, lamina dan ibu tulang daun bergaris hitam. Panjang daun 50-55 cm, lebar ± 18 cm, tiap helai daun melekat  pada tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara teratur, berbunga sepanjang tahun dengan warna kuning pangkal berwarna ungu, warna rimpang kuning dengan akar serabut.

Syarat Tumbuh
Iklim
Tumbuh baik di lahan-lahan yang teduh terlindung dari sinar matahari, namun memiliki adaptasi yang tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah tropis.
Suhu udara yang baik untuk budidaya temulawak antara 19-30°C.
Curah hujan yang diperlukan antara 1.000-4.000 mm/tahun.


Media tanam
Perakaran temulawak dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah. Namun untuk memproduksi rimpang yang optimal diperlukan tanah yang subur, gembur, drainase baik. Tanah liat berpasir yang paling ideal. Pemberian pupuk organik dan anorganik diperlukan untuk memberi unsur hara yang cukup.

Ketinggian Tempat
Temu lawak dapat tumbuh pada ketinggian tempat 5 - 1.000 m dpl, ketinggian optimum 750 m dpl, kandungan pati tertinggi di dalam rimpang diperoleh pada tanaman pada ketinggian 240 m dpl.

Pedoman Budidaya
Pembibitan
Perbanyakan tanaman dilakukan menggunakan rimpang-rimpangnya baik rimpang induk maupun rimpang anakan. Keperluan rimpang induk 1.500- 2.000 kg/Ha dan rimpang anakan 500-700 kg/Ha. Rimpang untuk bibit diambil dari tanaman tua sehat umur 10-12 bulan. Untuk rimpang induk dibelah menjadi 4 bagian yang mengandung 2-3 mata tunas dijemur selama 3-4 jam selama 4-6 hari, setelah itu ditanam. Sedangkan rimpang anak yang baru diambil, simpan di tempat lembab dan gelap selama 1-2 bulan sampai keluar tunas baru, atau rimpang cabang ditimbun tanah disiram rutin pagi dan sore sampai keluar tunas baru segera dipotong dengan mata tunas 2-3 mata tunas. Bibit dari rimpang induk lebih baik dari pada rimpang anak.

Pengolahan Media Tanam
Pengolahan dilakukan sebaiknya 30 hari sebelum tanam, lahan dibersihkan dari gulma dan dicangkul sedalam 30 cm, dibuat bedengan lebar 120-200 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 30-40 cm, Di atas bedengan dibuat lubang tanam ukuran 30 x 30 x 60 cm diberi pupuk kandang 1-2 kg, SP-36 100kg/Ha dengan jarak tanam dan kedalaman 60 x 60 cm.

Teknik Penanaman
Penanaman pada awal musim hujan. Satu bibit dimasukkan ke dalam lubang dengan mata tunas menghadap ke atas, timbun dengan tanah sedalam 10 cm.


Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman, tanaman yang mati/rusak diganti oleh bibit yang sehat.
Penyiangan, dilakukan pagi/sore membuang rumput liar, dilakukan pada 2 bulan dan 4 bulan setelah tanam bersamaan dengan pemupukan. Pengairan, dilakukan pada fase awal pertumbuhan, dengan cara dileb atau disiram menggunakan alat, berikutnya tergantung kondisi tanah dan cuaca.
Pembumbunan, dilakukan secara rutin setelah pemupukan.
Pemupukan susulan I diberikan saat tanaman berumur2 bulan pupuk kandang 0,5 kg/tanaman atau sekitar 10 ton/hektar, pupuk urea 95 kg/Ha dan KCL dosis masing-masing 40 kg/Ha disebarkan merata dalam larikan jarak 20 cm dari pangkal batang  tanaman  lalu ditutup  dengan  tanah.
Pemulsaan, dengan jerami dilakukan awal musim  tanam.

Hama Dan Penyakit
Hama
Hama yang dominan pada temulawak, antara lain:
1.  Ulat jengkal (Chrysodeixism chalcites esp.)
2.  Ulat tanah (Agrotisypsilon hufn.) dan
3.  Latar rimpang (Mimegrala coerulenfrons macquart).
Pengendalian; menggunakan pestisida ramah lingkungan

Penyakit
1. Jamur Fusarium
Penyebab:
F. oxysporum schlechtdanPhytium sp. serta bakteriPseudomonas sp. Menyerang perakaran dan rimpang di kebun atau setelah panen. Gejala:
Fusariummenyebabkan busuk akar rimpang dengan gejala daun menguning, layu, pucuk mengering dan tanaman mati. Akar rimpang menjadi keriput dan berwarna kehitam-hitaman bagian tengah membusuk. JamurPhytium sp. menyebabkan daun menguning, pangkal batang dan rimpang busuk, berubah warna menjadi coklat  keseluruhan tanaman menjadi busuk.
Pengendalian:
Melakukan bergiliran tanaman yaitu setelah panen tidak menanam tanaman yang berasal dari keluarga Zingiberaceae.
2. Penyakit Layu
Penyebab: Pseudomonas sp.
Gejala:
Menguningnya daun, pangkal batang basah dan rimpang yang dipotong mengeluarkan lendir.
Pengendalian:
Dengan pergiliran tanaman.

Gulma
Gulma kebun antara lain : rumput teki, alang-alang, ageratum dan gulma berdaun lebar lainnya.
 
Panen
Rimpang dipanen telah berumur 9-10 bulan. Dengan ciri memiliki daun-daun dan bagian tanaman yang telah menguning dan mengering, memiliki rimpang besar dan berwarna kuning kecoklatan. Pemanenan dilakukan dengan cara tanah di sekitar rumpun diangkat bersama akar dan rimpang. 
 

Budidaya Daun Kelor

Diposkan Oleh Unknown on Senin, 11 Maret 2013 | 14.44

Pendahuluan
 Kelor (Moringa oleifera Lam) merupakan tanaman perdu yang tinggi pohonnya dapat mencapai 10 meter, tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut dan dapat tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah kecuali tanah berlempung berat dan menyukai pH tanah netral sampai sedikit asam. Tanaman yang berasal dari dataran sekitar Himalaya, India, Pakistan dan Afganistan ini tidak asing bagi keseharian masyarakat di Nusa Tenggara Barat karena selain berfungsi sebagai pagar hidup di pekarangan dan kebun, kelor merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak di konsumsi rumah tangga tani. Diberbagai belahan dunia seperti di Afrika; Etiopia, Sudan, Somalia, Kenya dan juga di Arab Saudi dan Israel kelor juga dipergunakan sebagai tanaman pionir karena tahan kekeringan dan juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pemberian daun kelor pada sapi dilaporkan dapat meningkatkan pertambahan berat badan. Daun kelor dan buah kelor sebenarnya mempunyai nilai ekonomis karena sebagian petani dapat menjual daun dan buah mudanya kepasar namun budidayanya belum banyak dikembangkan dan dipelajari untuk dapat menghasilkan produksi daun yang optimal dengan kualitas yang tinggi. Perbanyakan Kelor Kelor sangat mudah ditanam baik dengan menggunakan stek maupun biji. Penanaman dengan stek merupakan praktek yang paling umum dilakukan sesuai dengan fungsinya sebagai batas tanah, pagar hidup ataupun batang perambat. Perbanyakan dengan stek cenderung memberikan produksi biomas yang lebih banyak karena tanaman cenderung menghasilkan banyak cabang yang rimbun sedangkan perbanyakan dengan biji menyebabkan tanaman cenderung tumbuh keatas dengan batang utama dan percabangan yang sedikit. 1. Perbanyakan dengan stek batang Perbanyakan dengan batang membutuhkan batang stek dengan tinggi antara 0,5 – 1,5 m disesuaikan dengan kebutuhan. Penanaman dengan batang stek yang pendek dapat dilakukan pada pekarangan rumah namun untuk kebun diperlukan batang yang tinggi untuk melindungi tanaman dari ternak. Batang stek yang digunakan sebaiknya berasal dari tanaman yang sehat dan berumur lebih dari enam bulan. Semakin besar lingkaran batang stek semakin besar peluangnya untuk hidup. Penanaman stek dilakukan dengan membuat lubang sedalam 10 – 15 cm dan dihindari melakukan tujak langsung yang dapat merusak bagian kulit ujung batang sehingga mengganggu tempat pertumbuhan perakaran. Pada bagian ujung stek dipotong diagonal untuk memperluas bidang pertumbuhan akar sehingga tanaman dapat bertumbuh dengan cepat dan dengan perakaran yang kokoh. Batang stek setelah dipotong tidak boleh dibiarkan lebih dari tiga hari sebelum ditanam. Waktu penanaman stek batang terbaik adalah pada akhir musim kemarau sampai awal musim hujan. Jarak tanam sangat ditentukan dengan kebutuhan, jarak yang rapat dibutuhkan untuk pagar hidup dan mencegah masuknya hewan liar kedalam kebun. 2. Perbanyakan dengan biji Perbanyakan dengan biji mempunyai persyaratan yang berbeda dengan perbanyakan dengan stek batang. Tanaman yang diperbanyak dengan biji mempunyai pertumbuhan yang sangat lamban pada awal karena pertumbuhan lebih kepada pengembangan akar sehingga tanaman sangat rentan terhadap persaingan dengan gulma sehingga tanaman perlu disiang dengan teratur, namun setelah akar bertumbuh dengan baik tanaman menjadi lebih kokoh, tumbuh dengan cepat, tahan kekeringan dan mampu mengasilkan biomas daun yang tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan beberapa tindakan untuk dapat mempercepat pertumbuhan kelor yang ditanam dengan biji a. Pemilihan biji Biji yang ditanam sebaiknya berasal dari biji yang sudah diseleksi berasal dari tanaman yang sehat, dipanen pada waktu buah polong kelor sudah tua dan biji dikeringkan dengan baik. Biji yang dipilih sebagai calon benih adalah biji yang sehat penampilan biji tidak keriput, cacat atau rusak. b. Perlakuan terhadap biji Biji yang sudah diseleksi sebagai calon benih sebelum ditanam direndam dalam air hangat dan dibiarkan selama satu malam atau sampai biji terlihat berkembang, biji yang mengapung sebaiknya dibuang dan tidak digunakan sebagai benih. Biji yang sudah direndam kemudian ditiriskan dan dapat ditanam segera atau paling lambat sehari setelah ditiriskan. c. Penyiapan lahan Tata cara penyiapan lahan untuk untuk tanaman kelor sebagai pakan ternak sebagai berikut : i. Membersihkan rumput/gulma ii. Pengolahan tanah - Olah tanah dengan cangkul atau traktor atau bajak sedalam 25 cm hingga didapatkan struktur tanah yang gembur. - Buatkan saluran air - Biarkan tanah dikeringanginkan antara 5-10 hari, agar gas-gas beracun tanah dapat menguap iii. Membuat bedengan atau guludan Sistem bedengan - Buat bedengan atau guludan sesuai dengan luas lahan - Buatkan jarak antar bedengan sekitar 30 cm - Pada tanah yang humusnya sudah kurang/tanah kurang subur tambahkan pupuk kandang/kompos dengan merata sambil dibalikkan. - Ratakan bedengan untuk siap ditanami Sistem guludan - Buat guludan dengan lebar 20-30 cm, dengan 20 cm dengan jarak antar guludan 30-40 cm. - Pada tanah yang kurang subur dapat ditambahkan pupuk kompos/organik. - Rapikan guludan hingga baik untuk ditanam. d. Penanaman dengan biji Biji ditanam dengan cara ditugal sedalam 2-3 cm dan biji dimasukkan sebanyak 2-3 biji per lubang dan setiap lubang tanam ditutup dengan kompos sampai permukaan rata dengan tanah. Jarak baris sebesar 30 cm dan jarak tanam dalam satu baris sebesar 10 cm. Jika tidak hujan maka 3 hari setelah tanam dilakukan penyiraman atau pengairan untuk mempercepat perkecambahan benih dan selanjut disiram sekali seminggu. e. Waktu tanam Waktu tanam yang baik adalah pada awal musim hujan, dapat saja dilakukan sepanjang tahun asalkan air tanahnya tersedia sepanjang waktu. f. Penyulaman Sejak benih kelor ditanam, maka 5-7 hari kemudian sudah muncul dipermukaan tanah, benih yang tidak tumbuh sebaiknya disulan/diganti dengan yang baru, usahakan jangan jangan sampai umur tanaman lebih dari 15 hari setalah tanam g. Penyiangan Penyiangan dapat dilakukan pada tanaman berumur sekitar 30 hari setelah tanam atau tergantung dari pertumbuhan gulma, dengan cara mencabut gulma atau dengan menggunakan alat bantu seperti sabit atau cangkul, harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu tanaman kelor h. Panen Pemangkasan dapat dilakukan setelah tinggi tanaman mencapai 1 meter dan pemanena berikutnya dilakukan antara 45 - 60 hari pada waktu musim hujan dan 60 – 90 hari pada waktu musim kemarau.

Budidaya Mahkota Dewa

Diposkan Oleh Unknown on Kamis, 07 Maret 2013 | 09.24


Budidaya Mahkota Dewa - Mahkota dewa merupakan tanaman perdu yang batang, daun, dan buahnya sangat ampuh untuk menaklukkan berbagai penyakit karena mengandung antioksidan yang tinggi, namun bijinya sangat beracun


Tanaman ini merupakan tanaman obat yang sedang popular karena daun dan buahnya dianggap mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Misalnya penyakit tekanan darah tinggi, diabetes, lever, kanker, sakit jantung, kencing manis, asam urat, reumatik, sakit ginjal, alergi, berbagai macam penyakit kulit, mengatasi ketergantungan obat, insomnia, paru-paru, sirosis hati, meningkatkan stamina dan ketahanan terhadap influenza.
Dalam daun dan kulit buah makuto dewo terkandung senyawa saponin dan flavonoid, yang masing-masing memiliki efek antialergi dan antihistamin.

Untuk mengolahnya jadi obat pun sangat gampang. Cuma dengan menyeduh teh racik terbuat dari kulit dan daging buah, cangkang buah, atau daunnya, bahan obat alami ini pun siap dipakai. Kalau enggak menghendaki rasa pahitnya, kita bisa sedikit bersusah payah mengolahnya menjadi ramuan instan. Rasanya ditanggung lebih sedap tanpa mengurangi khasiat.
Sampai saat ini, setidaknya baru dr. Regina Sumastuti dari Jurusan Farmakologi, Universitas Gadjah Mada yang telah menelitinya. Itu pun masih terbatas pada pengujian terhadap efek antihistamin atau antialergi.

Selama ini daun dan buah mahkota dewa dimanfaatkan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, sebagai obat penyakit kulit, gatal-gatal, dan eksim. Penyakit tersebut ditandai dengan gejala gatal-gatal, pertanda adanya alergi terhadap agen tertentu yang mendorong sel-sel tubuh mengeluarkan histamin.

Soal kemampuan melawan penyakit kulit ini Sumastuti sudah membuktikannya. Dari penelitian secara in vitro menggunakan usus halus marmot, diketahui, memang benar daun dan buah mahkota dewa mempunyai efek antihistamin. Artinya, tanaman tersebut secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya sebagai obat gatal-gatal akibat gigitan serangga atau ulat bulu, eksim, dan penyakit lain akibat alergi.


Bagaimana ara pemanfaatannya ?.
Buah mahkota dewa merupakan bagian yang paling banyak digunakan sebagai obat alami, di samping daun dan batang. Dari ketiga bagiannya, yakni kulit dan daging buah, cangkang (batok biji), serta biji, yang dimanfaatkan umumnya kulit dan daging buah serta cangkangnya.
Dalam keadaan segar, kulit dan daging buah muda mahkota dewa terasa sepet-sepet pahit. Sedangkan yang sudah tua sepet-sepet agak manis. Jika dimakan segar akan menimbulkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, bahkan keracunan. Apa penyebabnya, belum diketahui dengan pasti. Karenanya, tidak dianjurkan untuk mengkonsumsinya dalam keadaan segar.

Cangkangnya memiliki rasa sepet-sepet pahit, lebih pahit dari kulit dan daging buah. Bagian ini juga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung karena dapat mengakibatkan mabuk, pusing, bahkan pingsan. Namun, setelah diolah, bagian ini lebih mujarab ketimbang kulit dan daging buah. Bagian ini dapat mengobati penyakit berat macam kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru, dan sirosis hati.
Ada alasan mengapa biji mahkota dewa tidak dikonsumsi. Bijinya sangat beracun. Kalau mengunyahnya, kita bisa muntah-muntah dan lidah mati rasa,. Karenanya, bagian ini cuma digunakan sebagai obat luar untuk penyakit kulit.

Sudah tentu untuk menjadikan daging buah atau cangkangnya sebagai obat, perlu pengolahan terlebih dulu. Bisa dijadikan buah kering, teh racik, atau ramuan instan. Namun, yang sering dilakukan adalah dengan menjadikannya teh racik dan ramuan instan.
Bagian lain yang bisa dijadikan obat adalah batang dan daun. Batang mahkota dewa secara empiris bisa mengobati kanker tulang. Sedangkan daunnya bisa menyembuhkan lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor. Cara memanfaatkan daun adalah dengan merebus dan meminum airnya.

Jangan kaget. Begitu minum ramuan mahkota dewa, kita segera merasakan serangan kantuk. Efek ini normal. Efek lainnya adalah mabuk. Untuk menghilangkan efek ini dianjurkan untuk minum air lebih banyak. Untuk konsumsi selanjutnya, takaran mahkota dewa perlu dikurangi. Jika masih tetap mabuk, sebaiknya untuk sementara hentikan dulu. Dalam proses menyembuhkan penyakit dalam atau penyakit serius macam kanker rahim, setelah pasien mengonsumsi seduhan mahkota dewa badannya bisa merasakan panas-dingin, bahkan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah berbau busuk. Ini merupakan proses pembersihan penyakit,

Penggunaannya bisa dalam bentuk ramuan tunggal bisa pula ramuan campuran. Pencampuran dengan tumbuhan obat lain dimaksudkan untuk memperkuat khasiatnya dan menetralisir racun. Juga untuk mengurangi rasa tidak enaknya, Upaya penyembuhan menggunakan ramuan mahkota dewa, tidak bisa cepat membuahkan hasil. Pengobatannya perlu dilakukan beberapa kali. Bahkan untuk penyakit berat yang kronis perlu waktu lama. Yang perlu diperhatikan adalah takaran penggunaannya mesti tidak melebihi yang dianjurkan. Kalau takarannya berlebih, pengaruh yang tidak diinginkan bisa muncul.

Mesti diingat, wanita hamil muda dilarang mengonsumsi mahkota dewa. juga telah membuktikan mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga memperlancar proses persalinan. Ini bisa membahayakan kehamilan yang masih muda.

Resep untuk Menjinakkan Kanker
Pada orang dewasa, untuk mengobati kanker (payudara atau rahim) yang tidak terlalu parah atau sekadar upaya pencegahan, cukup gunakan satu sendok makan ramuan instan yang diseduh dengan segelas air minum. Minum sehari dua kali, pagi dan sore hari.
Bila penyakitnya serius, perlu ramuan campuran teh racik mahkota dewa dan kunyit putih instan. Caranya, kita rebus satu sendok teh teh racik mahkota dewa dalam tiga gelas air hingga airnya tinggal setengahnya. Lalu, tambahkan satu sendok teh kunyit putih instan. Ramuan ini diminum tiga kali sehari.

Untuk penyakit yang sangat serius dosis ini dibuat dua kali lipat atau sampai satu sendok makan teh racik mahkota dewa. Pengobatan ini memerlukan waktu 3 - 6 bulan. Setelah pasien merasa sembuh ramuan tetap dikonsumsi dengan takaran dikurangi.

Mengendalikan diabetes
Untuk mencegah atau mengobati penyakit diabetes yang tidak terlalu serius diperlukan 3 - 5 potong teh racik mahkota dewa yang direbus dalam tiga gelas air bersama tiga lembar daun salam. Perebusan dilakukan hingga air tinggal setengahnya. Ramuan ini diminum tiga hari sampai seminggu sekali. Sedangkan untuk mengobati diabetes parah kita merebus dengan cara yang sama: sesendok teh racik mahkota dewa dan tiga lembar daun salam. Ramuan diminum tiga kali sehari.

Siapa saja yang sudah berhasil sembuh berkat mahkota dewa ?
Dalam buku Mahkota Dewa Obat Pusaka Para Dewa karya Ning Harmanto, ketua Kerukunan Wanita Tani Bunga Lily, yang menekuni pengobatan dengan mahkota dewa, ada 26 orang yang mengakui keampuhannya atau ditulis berhasil sembuh dari sakitnya berkat mahkota dewa.
Di antara mereka adalah Tuti Ariestyani Winata, yang setelah menjalani operasi pengangkatan kista di rahim, mengalami kemunduran kondisi tubuh. Badannya kurus, perutnya membuncit seperti sedang hamil tua, jari-jari kakinya menggemuk, tekanan darahnya naik-turun, dan Hb-nya sangat rendah.

Beberapa dokter yang dikunjunginya memberikan diagnosis berbeda. Ada yang mendiagnosisnya menderita kanker hati, sirosis hati, dan ada pula yang menyatakan dia menderita hepatitis kronis. Tak kunjung memperoleh kepastian penyakit yang dideritanya, atas saran Ning, Tuti akhirnya mengonsumsi air rebusan daging buah mahkota dewa. Setelah enam bulan, Tuti merasa sembuh dan kondisi tubuhnya membaik kembali.

Selain Tuti, Diana yang berdomisili di Bekasi menyatakan berhasil sembuh dari penyakit kanker di payudara kanannya setelah menjalani operasi dua kali lagi untuk membersihkan kanker di payudara kirinya. Anna Winata di Bogor dan Retno di Bekasi juga merasakan sehat kembali dari sakit kanker rahim berkat mahkota dewa. Ny. Parlan di Balikpapan pun berhasil menormalkan kadar gula darahnya berkat tumbuhan obat ini.

Ully Sigar Rusadi. Penyanyi yang juga kakak kandung pemain sinetron dan penyanyi kenamaan, Paramitha Rusadi, baru-baru ini datang ke Lombok untuk melakukan promosi gerakan cinta lingkungan yang di dalamnya mengajak warga masyarakat untuk mau menanam pohon. Untuk misi ini, Ully ternyata sudah membawa 150 pohon mahkota dewa untuk ditanam di Taman Udayana Mataram.
Dengan mengkonsumsi tanaman obat mahkota dewa, ia mengaku staminanya selalu terjaga. "Mahkota dewa selain baik untuk obat penurun kolesterol juga berfungsi sebagai obat kuat," jelasnya.

Rahardja Pandutama Jl. Kartanegara I / 48 Jember, beliau adalah seorang karyawan yang sudah berusia lanjut, umur saya 77 tahun. Saya memiliki 2 macam keluhan, yuitu sakit pada pinggang yang sudah kurang lebih 10 tahun dan kram pada betis kaki yang kambuh pada malam hari sekitar jam 1-2 tengah malam, kadang kaki kiri dan kadang yang kanan, kira-kira sudah sejak 2 tahun.

Beliau sudah berobat ke beberapa dokter tetapi hasilnya belum memuaskan. Setelah mencoba minum 'MAHKOTA DEWA NUSANTARA' habis 2 botol ternyata kram-kram pada betisnya hilang sama sekali dan tidak kambuh lagi.
Sakit pada pinggang memang belum sembuh total, tetapi sudah banyak berkurang dari pada sebelum minum.

Mi'rati/B. Sunarni, Perum Bumi Mangli Permai BB 11, Jember, Telp. (0331) 484470. Sebelum minum "MAHKOTA DEWA NUSANTARA" tekanan darah tingginya sering kambuh dan kulit tubuh terutama dibagian kepala sering bersisik dan bahkan sampai mengelupas (sudah terjadi selama � 10 tahun). Namun setelah minum "MAHKOTA DEWA NUSANTARA" semuanya menjadi normal kembali.

Florentina S, Orang Tua Yoga, Tel. (0311) 540143, anaknya bernama Pascalis Yoga PP (umur 10 tahun) sejak umur 7 tahun sakit gatal-gatal/exim basah. Menjalani pengobatan ke dokter spesialis kulit, diberi salep dan obat minum. Setelah minum obat dan diberi salep, eximnya kering. Namun tidak lama kemudian jika makan ikan, daging ayam potong, chiki dan sebangsanya, exim tersebut kambuh lagi. Begitu seterusnya. Setelah dicoba diberikan 'MAHKOTA DEWA NUSANTARA' dan dalam jangka waktu 1 minggu kulit kering, dan jika makan daging ayam atau chiki, langsung diberi minum 'MAHKOTA DEWA NUSANTARA' dan tidak gatal dan berair lagi.
Masih banyak lagi contoh keberhasilan yang lain. Sayangnya, yang tidak berhasil tidak pernah terungkap, sehingga tidak bisa diketahui penyakit apa yang tidak mampu dilawan tanaman berbuah merah menyala ini.

Dari mana mahkota dewa ?
Mahkota dewa dikenal juga sebagai beluntas cina atau daun dewa di Sumatera, atau tegel kio di jawa., Khasiat tanaman dan pengobatannya sudah dikenal puluhan tahun
lalu khususnya di negara China, yang penduduk sana menyebutnya dengan nama shian tao. Dalam bentuk ramuan obat gajin, daun mahkota dewa berkhasiat sebagai obat anti radang, penurun panas, penghilang rasa sakit, pembersih darah dan mampu menghambat pembekuan darah.

Selain di China, di Indonesia pada awalnya tanaman ini terdapat di Papua. Tetapi masyarakat lokal tidak menganggapnya sebagai tanaman berkhasiat karena ditakuti mengandung racun sehingga tanaman ini banyak dibiarkan berkembang sebagai tanaman liar setara dengan gulma lainnya.

Itulah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Tanaman yang kabarnya berasal dari daratan Papua ini di Jawa Tengah dan Yogyakarta dijuluki makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat, karena khasiatnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara, orang-orang dari etnik Cina menamainya pau yang artinya obat pusaka.

Untuk memenuhi keburuhan masyarakat akan mahkota dewa yang biasanya ingin serba praktis, maka Ning Haryanto (47) merintis perusahaan PT MAHKOTA DEWA INDONESIA, Kantornya di bilangan Jalan Gaharu, Rawa Badak, Jakarta Utara.
Perusahaan ini berdiri tanggal 1 Januari 2003, atau empat tahun setelah tanaman mahkota dewanya berproduksi, bahkan Klinik Tradisional Mahkota Dewa sudah berdiri bulan November 2002.


Apa yang terkandung dalam mahkota dewa ?
Dari penelitian diperoleh data bahwa daun dan kulit mahkota dewa mengandung alkaloid, saponin, flanoida, minyak atsiri, dan tanin. DR Regina Sumastuti, farmakolog dari Fakultas Kedokteran UGM menemukan kandungan zat kimia antara lain zat antihistamin yang mampu mencegah alergi. Di samping tanaman ini bersifat sebagai axytosin dan sintosinon yang merangsang kerja otot rahim yang memudahkan proses melahirkan selama persalinan.
Buah Mahkota Dewa mengandung zat-zat aktif seperti :
1. Alkaloid berfungsi sebagai detoksifikasi yang dapat menetralisir racun-racun di dalam tubuh.
2. Saponin
- menjadi sumber anti-bakteri dan anti-virus
- meningkatkan sistem kekebalan tubuh
- meningkatkan vitalitas
- mengurangi kadar gula dalam darah
- mengurangi penggumpalan darah
3. Flavanoid melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah mengurangi kandungan kolesterol serta mengurangi penumbunan lemak pada dinding pembuluh darah mengurangi kadar resiko penyakit jantung koroner mengandung anti-inflamasi (anti-radang) berfungsi sebagai anti-oksidan membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan.
4 Polifenol berfungsi sebagai anti-histamin (anti-alergi)

Bagaimana menanam mahkota dewa ?
Pohon Mahkota Dewa dibudidayakan sebagai tanaman hias / tanaman peneduh. Pohonnya kecil dengan tinggi mencapai 1,5 - 3 meter, merupakan tanaman perdu, mempunyai buah yang menarik karena warnanya merah menyala, menempel dari batang utama hingga ke ranting-rantingnya.
Tak sedikit yang mencoba menanamnya di pekarangan rumah. Bahkan, ada yang memanfaatkan peluang usaha untuk membudidayakan dan mengolahnya menjadi produk ramuan obat tradisional atau jamu dengan berbagai bentuk.

Masa produksi 10 - 20 tahun. Buah mahkota dewa berbentuk bulat, dengan ukuran bervariasi mulai sebesar bola pingpong sampai buah apel. Bagian tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan obat adalah daun dan buahnya. Tanaman mahkota dewa biasa tumbuh di ketinggian 10 - 1.200 m dpl (di atas permukaan laut) dengan lokasi optimal 10 - 1.000 m dpl.
Perbanyakan tanaman menggunakan biji dari buah yang sudah matang. Cara penyemaian biji bisa dilakukan menggunakan media tanam berupa sekam bakar yang dicampur dengan pupuk kandang (kompos). Selama proses pesemaian dilakukan penyiraman secara rutin pada pagi dan sore hari.

Sekitar 10 - 14 hari setelah penyemaian, mulai terlihat pertumbuhan daun. Bibit dipindahkan ke media penanaman pada umur 2 bulan atau dimana tanaman telah mencapai ketinggian 10 - 15 cm. Media penanaman bisa menggunakan pot atau ditanam di tanah pekarangan. Pot berukuran diameter 30 cm dan tinggi 40 cm, bisa terbuat dari tanah, plastik, kayu atau kaleng. Media tanam dalam pot sebaiknya campuran tanah, kompos, pasir/sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1.

Tanaman ini membutuhkan banyak air selama hidupnya.
Tanaman berbunga pertama kali yang menjadi buah pada umur 10-12 bulan. Buah akan matang dan siap dipanen dalam waktu 2 bulan. Buah yang matang akan berwarna merah.
Meski penanamannya bisa di dalam pot atau langsung di tanah, pertumbuhannya akan lebih baik bila ditanam di tanah. Yang berasal dari cangkokan, mestinya berbuah lebih cepat.
Kecuali dengan cangkokan atau melalui biji, mahkota dewa juga dapat diperbanyak dengan teknik okulasi.

Tanaman Buah

Artikel Lainnya »

Hewan Peliharaan

Artikel Lainnya »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Aneka Ragam Budidaya - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger