Headlines News :

Latest Post

Budidaya Burung Dara Pedaging

Diposkan Oleh Unknown on Selasa, 12 Maret 2013 | 17.26


Pendahuluan
Kebutuhan daging burung dara untuk konsumsi semakin meningkat. Kandungan gizi yang tinggi pada daging burung dara telah menjadikannya sebagai alternatif sumber protein bagi keluarga. Nilai protein, lemak dan mineral yang cukup tinggi serta rasa gurihnya telah menjadi alasan utama kecintaan masyarakat akan daging burung dara. Depot, rumah makan dan restoran telah banyak yang menawarkan menu dengan bahan utama daging burung dara. Harganya setiap porsi burung dara goreng semakin mahal, yaitu berkisar antara Rp25.000,00 isi 1 ekor. Terkesan mahal memang. Tapi jangan salah. Semakin mahal harga yang ditawarkan, konsumen semakin dibuat penasaran. Hasilnya, menu burung dara goreng pun semakin diburu dan tergolong sebagai menu yang paling cepat habis.
Membudidayakan burung dara dengan tujuan diambil dagingnya belum banyak dijalankan khalayak secara umum. Selama ini, unggas pedaging yang paling banyak dibudidayakan oleh para peternak adalah budidaya ayam kampung, ayam pedaging, burung puyuh dan bebek. Burung dara, selain memiliki masa bertelur yang cukup cepat, juga tergolong sebagai unggas dengan perawatan sangat mudah, tahan terhadap serangan penyakit dan tidak menyita biaya perawatan yang tinggi.
Untuk memulai budidaya burung dara pedaging, bisa dilakukan berdasarkan tahap-tahap sebagai berikut :

1. Pemilihan Lokasi
Burung dara tergolong burung yang paling mudah dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan. Burung ini mampu hidup dan berkembang biak di daerah dingin atau panas, berkelembaban rendah maupun tinggi. Burung dara  juga terbukti sebagai unggas yang dapat hidup secara bebas maupun diternakkan mulai dari zaman kuno hingga zaman modern, seperti sekarang. Artinya, burung dara memiliki daya tahan hidup yang cukup tinggi pada lingkungan apapun. Di desa, di kota, di pantai, di pegunungan, burung dara bisa hidup, tumbuh dan berkembang dengan baik.

2. Persiapan Kandang
Beternak burung dara bisa jadi dapat berpengaruh terhadap keadaan lingkungan sekitar, terutama dalam hal bau kotoran. Untuk itu, budidaya burung dara pedaging sebaiknya dilakukan pada lingkungan yang cukup jauh dari pemukiman misalnya di pekarangan belakang rumah atau dibuatkan kandang secara khusus yang berdiri sendiri dan terpisah dari rumah tempat tinggal. Namun, bau kotoran burung dara bisa diminimalkan dengan cara menjaga kandang agar tetap bersih dari kotoran. Berbagai desain kandang telah banyak dibuat oleh para ahli-ahli peternakan sehingga kandang selalu bisa dalam keadaan bersih dan tidak menimbulkan bau yang menyengat. Desain kandang terbaru dan modern ini bahkan memungkinkan untuk melakukan aktivitas berternak di halaman depan rumah.

3. Pemilihan Indukan
Jika tujuan budidaya burung dara adalah untuk diambil dagingnya, maka indukan yang dipilih sebaiknya adalah yang memiliki karakter yang sesuai yaitu berukuran besar, mengandung daging yang banyak dan memiliki berat yang cukup tinggi. Karakter  burung dara semacam ini bisa didapatkan pada burung dara jenismegan atau biasa disebut sebagai burung dara Magelang karena banyak didapatkan di kota Magelang, Jawa Tengah. Umumnya, burung dara megan ini memiliki warna hitam dengan variasi biru atau hijau yang abstrak. Yang paling menonjol adalah ukurannya yang terlihat jauh lebih besar daripada ukuran burung dara pada umumnya.
4. Persiapan Pakan
Burung dara tidak memerlukan pakan yang mahal. Cukup jagung giling atau biasa disebut beras jagung untuk burung dara yang masih berusia bayi hingga 1 bulan dan siap untuk dipanen. Sedangkan untuk indukan, cukup digunakan jagung pipilan yang belum digiling. Harganya berkisar Rp4.000,00/kg. Sebagai variasi, bisa juga diberikan nasi karak, yaitu nasi sisa yang telah dikeringkan. Harga nasi karak juga sangat murah. Yaitu tidak lebih dari Rp2.000,00/kg. Untuk meningkatkan kecepatan tumbuh bayi burung dara, bisa diberi pakan unggas formula khusus yang biasa disebut starter feed. Lipur khusus untuk bayi unggas ini dikenal sangat ampuh untuk menjadikannya tumbuh dengan pesar dalam waktu hanya 30 hari. Harganya mulai Rp6.000,00/kg untuk pembelian di toko grosir atau Rp9.000,00 untuk pembelian di toko pengecer. Selain makanan formula, ditambahkan pula minuman formula yang diberi larutan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan nafsu makan.

5. Panen
Bayi burung dara yang diternakkan secara intensif dengan pemberian pakan dan vitamin formula pertumbuhan bisa dipanen dalam waktu hanya 30 hari ketika berat tubuhnya mencapat 300 gram atau lebih. Bisa jadi, ketika mencapai berat tubuh ini, burung dara masih bersuara seperti suara piyik, bahkan sayapnya belum ditumbuhi bulu secara sempurna sehingga belum bisa terbang. Namun, karena tujuan utama budidaya ini adalah untuk diambil dagingnya, maka proses panen sudah bisa dilakukan.
Demikianlah, ternyata budidaya burung dara pedaging bisa dilakukan dimana saja dengan mudah. Jangka waktu panen juga tidak terlalu lama karena burung dara tergolong sebagai burung yang akan bertelur sepanjang tahun asalkan sudah tidak dalam keadaan mengasuh anak. Harga jual anak burung dara pedaging juga cukup tinggi dan stabil yaitu sekitar Rp17.500,00 hingga Rp20.000,00 per ekor. 

Pengendalian Hama Tikus


A. Ekologi Tikus
1. Morfologi
a. Tikus Sawah (Rattus argentiventer)
          Tikus sawah banyak dijumpai merusak tanaman pangan khususnya padi sawah. Tubuh bagian atas (punggung) berwama coklat kekuningan dengan bercak hitam di rambut- rambutnya, sehingga memberi kesan seperti berwama abu-abu, dada berwama putih. Panjang badan tikus sawah dewasa dari hidung sampai ujung ekor berkisar antara 270- 70 mm, dengan berat sekitar 130 g. Panjang ekor biasanya sama atau lebih pendek dari pada badan dari ujung hidung sampai pangkal ekor. Panjang telapak kaki belakang dari tumit sampai ujung kuku jari terpanjang adalah 32-36 mm. Sedangkan panjang telinga 18-21 mm. Tikus sawah mempunyai enam pasang puting susu yang terletak di kiri dan kanan pada bagian perut memanjang sepanjang badan.
          Tikus sawah dapat berkembang biak mulai umur 1,5-5 bulan. Setelah kawin, masa bunting memerlukan waktu 21 hari. Seekor tikus betina melahirkan rata-rata 8 ekor anak setiap kali melahirkan, dan mampu kawin lagi dalam tempo 48 jam setelah melahirkan serta mampu hamil sambil menyusui dalam waktu yang bersamaan. Selama satu tahun seekor betina dapat melahirkan 4 kali, sehingga dalam satu tahun dapat dilahirkan 32 ekor anak, dan populasi dari satu pasang tikus tersebut dapat mencapai + 1200 ekor turunan.
          Anak yang baru lahir beratnya sekitar 2-4 g, berwama merah daging dan tidak berbulu. Setelah umur 4 hari  wamanya berubah menjadi biru kelabu dan pada umur 7- 10 hari tumbuh bulu berwama kelabu dan coklat, saat ini mata masih tertutup. Mata anak tikus terbuka setelah umur 12-14 hari dan masa menyusui berlangsung sampai umur 18-24 hari. Pada umur 28 hari anak tikus telah dapat berjalan dengan cepat.
          Di laboratorium tikus dapat mencapai umur 3-4 tahun. Namun karena persediaan makanan dan perbedaan faktor lingkungan, di lapangan tikus sangat sukar mencapai umur lebih dari satu tahun.


Tikus Semak (Rattus exulans)
          Tikus semak tubuhnya sedikit lebih kecil dari pada tikus sawah. Panjang badan tikus dewasa dari hidung sampai ujung ekor berkisar antara 220-285 mm. Panjang ekor sama atau lebih panjang dari pada panjang badan. Panjang telapak kaki belakang dari tumit sampai ujung kuku jari yang terpanjang 24-28 mm, panjang telinga 17-20 mm. Susunan puting susu adalah 2 pasang di kiri dan di kanan sehingga puting susu beriumlah delapan. Tikus semak pandai memanjat. Bagian atas badannya berwama coklat kelabu dan bagian bawah berwama putih kelabu.
          Tikus semak terutama hidup disemak-semak, pinggir hutan dan di rumah-rumah, namun kurang menyukai daerah yang banyak air.

2. Perilaku
          Tikus mempunyai indra penglihatan yang lemah dan buta wama, namun diimbangi oleh indra penciuman, peraba dan pendengaran yang tajam. Gerakan di malam hari terutama dituntun oleh misai dan bulu-bulu yang tumbuh panjang.
          Tikus mempunyai gigi seri yang sangat tajam dan selalu tumbuh terns, sehingga selama hidupnya gigi tersebut dapat mencapai panjang 15-25 cm. Apabila pertumbuhan gigi seri tersebut dibiarkan, maka gigi seri tersebut mengganggu. Oleh karena itu agar panjang gigi serinya tetap normal, tikus sering mengerat benda-benda keras maupun lunak yang dijumpai, sehingga menjadi penyebab utama kerusakan yang ditimbulkan, akibat yang ditimbulkannya dalam setiap hari dapat mencapai tidak kurang dari lima kali banyaknya makanan yang dibutuhkan.
          Perkembangbiakan tikus sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama ketersediaan makanan. Pada daerah dengan musim hujan dan musim kemarau yang tidak banyak berbeda sepanjang tahun, faktor tersedianya makanan tidak banyak berbeda, sehingga kepadatan populasi tikus juga stabil. Untuk daerah yang mempunyai musim hujan dan musim kemarau yang berbeda jelas, maka kepadatan populasi tikus tidak stabil. Pada musim hujan, dengan persediaan makanan cukup, tikus akan berkembang biak dengan pesat. Sebaliknya di musim kemarau dengan ketersediaan air yang sangat terbatas perkembangbiakan tikus sangat terhambat, bahkan dapat terhenti sama sekali.
         
          Tikus yang kelaparan akan memakan hampir semua benda yang dijumpai, lain halnya bila ketersediaan makanan cukup, tikus akan memilih makanan yang paling disukai yaitu padi bunting, padi menguning dan jagung muda. Disamping itu tikus juga menyukai ubi kayu, ubi jalar, tebu dan kelapa. Pada dasamya makanan tikus adalah karbohidrat. Namun adakalanya dijumpai tikus memakan serangga, siput, bangkai ikan dan makanan hewan lain. Makanan jenis hewani tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan akan protein. Hampir seluruh waktu yang digunakan untuk makan adalah malam hari. Pada waktu makan, tikus bergerak kesana kemari sambil menggerogoti makanannya sedikit demi sedikit sepanjang malam sampai kenyang.
          Tikus hidup di tempat-tempat yang tersedia cukup makanan dan yang dapat memberikan perlindungan. Mereka lebih suka tempat-tempat bervegetasi yang memenuhi kedua kebutuhan tersebut. Bila hal ini tidak terpenuhi, mereka berdiam di tempat-tempat yang memberikan cukup perlindungan baik terhadap panas maupun musuh-musuhnya, yaitu semak-semak atau tempat-tempat berumput lainnya yang tidak jauh dari sumber makanan.
          Tikus sawah merupakan binatang yang sangat pandai membuat liang untuk bersarang. Liang bagi tikus berfungsi sebagai tempat berlindung, memelihara anak dan menimbun makanan. Sarang dibuat selama masa perkawinan dan digunakan untuk melahirkan dan melindungi anak-anaknya. Tikus yang akan melahirkan mengurung diri di dalam liang dan menutup pintu masuk dengan tanah galian. Tutup ini akan dibuka apabila anak-anaknya sudah mampu bergerak sendiri.
          Liang tikus biasanya mempunyai pintu masuk utama yang berakhir dengan satu atau dua jalan keluar yang tersamarkan. Pada umumnya liang tikus berlekuk-lekuk di bawah tanah sedalam 0,5 m dan dilengkapi dengan ruang-ruang sebagai tempat penyimpanan makanan dan tempat melahirkan. Panjang liang tikus 0,5-1,5 m, bahkan liang tikus dapat mencapai 10 m, hal ini sejalan dengan perkembangan anggota kelompok. Liang tikus tidak selamanya dihuni, terutama pada waktu persediaan makan berkurang atau bencana banjir. Tikus biasanya mengembara dan membuat sarang baru atau menempati tempat yang lama sekitar tanggul irigasi. pekarangan rumah sekitar gudang padi, kebun tebu, rumpun bambu, semak belukar, pekuburan, tegalan atau permukaan tanah yang tinggi.
          Pada umumnya liang yang ditinggalkan tidak digunakan oleh tikus-tikus lainnya kecuali untuk berlindung atau berteduh.



3. Kerugian Karena Serangan Tikus
          Pada tanaman padi, kerusakan karena serangan tikus terjadi akibat batang padi digigit/dipotong. Bekas gigitan terlihat membentuk sudut potong kurang lebih 45 o  dan masih mempunyai sisa bagian batang yang tidak terpotong.
          Pada tanaman fase vegetatif, seekor tikus dapat merusak antara 11-176 batang padi per malam. Sedangkan pada saat bunting kemampuan merusak meningkat menjadi 24 –246 batang per malam. Kerusakan berat karena serangan tikus biasanya hanya menyisakan beberapa baris tanaman pada bagian tepi.

B. Kebijakan Perlindungan Tanaman
Landasan kebijakan untuk menyelenggarakan perlindungan tanaman adalah Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman dan Keputusan Menteri Pertanian No.887/Kpts/OT210/97 tentang Pedoman Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan. 
Tujuan mengupayakan terjaminnya produk pertanian secara kontinyu dengan kuantitas sesuai dengan harapan dan kualitas yang baik dan berdaya saing tinggi dalam rangka mendukung sistem dan usaha agribisnis yang lestari. Dalam pelaksanaannya perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu pengendalian populasi hama dengan memanfaatkan semua teknik yang kompatibel dalam suatu sistem yang harmonis untuk menurunkan dan mempertahankan populasi di bawah tingkat yang tidak menyebabkan kerusakan secara ekonomi. 
Berdasarkan Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom, Kewenangan Daerah Otonom adalah mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat setempat. Kewenangan Pemerintah Pusat dibidang perlindungan tanaman adalah penetapan norma dan standar teknis pengendalian, serta menetapkan kebijakan untuk mendukung pembangunan secara makro. Sedangkan pemerintah propinsi  mempunyai kewenangan menangani serangan OPT lintas kabupatan/kota, pemantauan, peramalan dan pengendalian serta penanggulangan eksplosi. Secara tegas dalam PP No. 25 tahun 2000 disebutkan bahwa wewenang pemerintah kabupaten/kota dalam pengendalian OPT meliputi pengamatan OPT dan faktor yang mempengaruhinya, pengendalian dan eradikasi, pengawasan pestisida serta melaksanakan bimbingan terhadap petani/masyarakat tani.

Budidaya Durian

Pendahuluan
Durian (Durio Zibethinus Murr) termasuk dalam familia Bombaceae.Berasal dari daerah tropis di Asia (Malaysia) kemudian menyebar ke Asia Tenggara dan berbagai belahan dunia. Pada musim buah durian, berbagai varietas dan tipe diperdagangkan di berbagai pasar dalam negeri. Untuk pasar luar negeri, penyuluhan rekomendasi varietas unggul serta promosi masih perlu ditingkatkan sesuai permintaan pasar. Demikian pula peningkatan adopsi dan aplikasi teknologi budidaya durian di sentra produksi dalam upaya peningkatan mutu buah.
Pesaing Indonesia sebagai penghasil buah durian adalah Thailand dan Malaysia. Sentra produksi durian di Indonesia adalah Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat (Tabel 1). Varietas durian yang . direkomendasikan untuk dibudidayakan adalah Sunan, Sukun, Petruk, Sitokong, Mas, Kane, Matahari dan Hepe.

Tabel 1. Data Sentra Produksi Durian Utama Tahun 2000

No.
Provinsi
Kabupaten
Luas (H1)
Produksi (Ton)
Bulan Panen
1
Sumatera Utara
- Tapsei
247.75
1.836
9-1


- Asahan
253,01
1.303
8-12
2
Riau
- Indragiri
519,17
6.427
11-1


Hulu
212,36
983
12-1


- Kep. Riau
334,72
3.342



- Kampar



3
Jambi
- Bungo Tebo
320,70
2.723
12-2
. 4
Jawa Barat
-    Bogor
-    Kuningan
421,27 265,50 '
4.814 1.039
13-3
5
Jawa Tengah
- Jepara
240,18
3.303
10-3
6
DI Yogyakarta
- Kulonprogo
213,21
1.686
10-3
7
Jawa Timur
-    Malang
-    Probolingo
-    Pasuruan
247,75 234,40 213,52
3.342 2.983 8.465
1-2
8
Kalimantan Barat
-    Sangau
-    Sintang
309,70 406,10
4.795           
5.796           
1-6

Tanaman durian tumbuh baik di daerah dengan ketinggian< 800 meter diatas permukaan laut (m dpi), dan masih dapat tumbuh pada ketinggian 1.000 m dpi, tetapi produktivitasnya sangat rendah. Membutuhkan iklim basah dengan curah hujan 1.500 - 2.500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun. Waktu pembungaan dan pembuahan dibutuhkan bulan kering selama 3 bulan dengan curah hujan < 60 mm/bulan dengan suhu udara 28° -29° C.
Durian membutuhkan lahan yang tanahnya gembur, subur dan bersolum cukup dalam, serta tanah lapisan bawah tidak berlapis liat yang bersifat kedap air sampai kedalaman 3 meter.

Perbanyakan Tanaman
1. Perbanyakan dengan okulasi/penempelan.
Sebagai entres dipilih tunas yang mempunyai mata-mata yang besar dan sehat dari cabang berumur kira-kira satu tahun. Pengambilan mata tempel dilakukan dengan membuat irisan agak lengkung horizontal diatas mata sepanjang 1 cm dan pada kedua ujung irisan tersebut dibuat irisan vertikal kebawah sepanjang kira-kira 2,5 cm, lalu dikelupas hingga diperoleh  kulit dengan satu mata yang baik dalam bentuk segi empat berukuran 1 x 2,5 cm. Pada batang bawah dikupas kulit kayunya sesuai bentuk dan ukuran mata tempel. Kemudian mata tempel segera ditempelkan. Selanjutnya tempat tempelan dibalut dengan pita plastik dan bagian mata tidak tertutup.
2. Penyambungan/grafting
Batang bawah dipotong sekitar 10 cm dari pangkal batang dan pada bagian atas dibuat keratan bebentuk huruf V sepanjang 2-3 cm. Selanjutnya dipotong batang atas sepanjang 8-10 cm yang memiliki minimal 2 mata tunas. Pangkal tunas dibuat runcing, agar bisa masuk keujung batang bawah, ikat sambungan tersebut dengan tali plastik. Calon benih ini kemudian diberi sungkup plastik, yang sebelumnya disiram dahulu. Sekitar 21 hari kemudian sungkup dibuka.
3. Cangkok
Perbanyak vegetatif dengan cara cangkok sebenarnya dapat dilakukan pada tanaman durian, tetapi benih yang dapat diperoleh sedikit dan dapat merusak bentuk pohon induknya sendiri serta sistem perakarannya tidak kuat karena tidak mempunyai akar tunggang.

Pembuatan Lubang Tanaman
Lubang tanam dibuat berukuran100 x 100 x 100 cm dengan jarak antar lubang 10 -14 m x 10 - 14 m. Saat pembuatan lubang tanam, tanah galian dibagi dua. Tanah galian bagian atas dikumpulkan sebelah kiri dan bagian bawah disebelah kanan lubang, setelah itu didiamkan selama 2 minggu. Sebelum tanah galian dimasukkan kembali, lapisan atas dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 35 kg dan 1 kg pupuk posfat perlubang. Lubang tanam ditutup selama 15 hari, setelah itu digali dengan ukuran sebesar polybag benih. Untuk menghindari gangguan hama, tanah galian dapat dicampur dengan insektisida Furadan 3 G.

Penanaman
Benih yang ditanam di lapangan sebaiknya sudah setinggi 75-150m kondisinya sehat, pertumbuhan batangnya kokoh, perakaran­nya banyak dan kuat. Polybag dilepas dan benih durian dimasukkan ke dalam lubang tanam. Lubang ditutup dengan tanah galian. Selanjutnya pada sisi tanaman didirikan ajir dan batang tanaman di ikat pada a i i r agar pertumbuhan tanaman tegak keatas searah ajir. Tanah di sekeliling batang ditutup rumput atau jerami kering sebagai mulsa, lalu disiram. Benih diberi naungan dari rumbia sebagai pelindung agar tanaman tidak layu atau kering tersengat sinar matahari,

Pemeliharaan
1. Pemupukan
Tabel 2. Rekomendasi Pemupukan

Umur Tanaman
Pupuk Kandang (Pkd) dan NPK
Keterangan
0-3 bin tanam
36 kg Pkd
Diberikan sebelum penanaman pada waktu persiapan lubang
6 bulan
72 Kg Pkd
Disebar mengelilingi tanaman
1 tahun
108 Pkd + NPK 40- 80 g/th
Takaran untuk satu tahun tidak diberikan sekaligus tetapi 3 kali
2 tahun
NPK 150-300 g/th
Sda
3 tahun
NPK 400-600 g/th
Sda
4 tahun dst
Diperkirakan
Tambahan NPK yang diberikan dapat diperkirakan sesuai pertumbuhan diameter pohon. Untuk setiap kenaikan 1 cm diperlukan tambahan pupuk sebanyak 150-200 g/phn
8 tahun
280 kg Pkd + Sda
Sda
10 tahun
360 kg Pkd + sda
Sda

2. Pengairan
Pada awal penanaman durian di lapangan, penyiraman di lakukan setiap hari atau disesuaikan kondisi cuaca. Penyiraman selanjutnya perlu diberikan 1-2 kali seminggu pada musim kemarau, terutama pada saat tanaman berbuah. Jika air sangat berlebihan pada musim hujan, maka harus dibuat drainase yang baik.

3. Pemangkasan Bentuk

  • Pembentukan tajuk mulai diatur sejak tanaman berumur 1 tahun, kira-kira tinggi tanaman 70-100 cm, pembentukan tajuk dilakukan dengan memelihara satu batang utama dan 10 calon pembentukan cabang primer terpilih, dan pembentukan tanaman harus diusahakan supaya terjadi keseimbangan antara bentuk tajuk dengan percabangannya.
  • Pemangkasan dilakukan pada awal musim hujan. Berkas pemangkasan disaput dengan cat meni atau ter.



4. Pengendalian Hama Dan Penyakit
a. Hama Ulat Penggerek Buah

Disebabkan oleh ngengatTirathaba ruptilinea, larvanya berbentuk ulat hitam kecoklatan. Ulat menetas dari telur yang diletakkan pada kulit buah yang kemudian masuk ke daging buah dan menggereknya sampai busuk. Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif deltametrin (contoh ; Decls 2,5 EC) atau
betasiflutrin (contoh ; Buldok 2,5 EC) dengan dosis 1 ml/l 2-3 minggu sekali sejak bunga berubah menjadi pentil buah hingga 2-3 minggu sebelum dipanen. Pengendalian dapat pula dilakukan dengan cara penasapan. Pengasapan dilakukan dengan pembakaran sampah basah 2-3 hari sekai disekltar tanaman dan diupayakan agar sampah tidak sampai terbakar.
b. Penyakit Kanker Batang
Penyebabnya adalah cendawan Phytophthora palmivora dan sering terjadi pada saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. Gejala awal berupa bercak kecil pada cabang, kemudian melebar dan basah karena mengeluarkan blendok/lendir. Kemudian cendawan masuk ke batang serta berubah menjadi coklat tua dan pohon akan mati. Pengendalian dilakukan dengan cara, bercak coklat pada kulit batang dikorek sampai terlihat jaringan kayu yang sehat, kemudian bekas korekan dioles fungisida seperti yang berbahan aktif propamokarb hidroklorida (contoh: Previur N) dengan dosis 2 g/l atau mankozeb (contoh : Ridomil) 3-5 ml/l.


Budidaya Anggrek

Pendahuluan

Dendrobium yang mulai banyak di budidayakan di Indonesia sebagai tanaman bunga komersial berasal dari 2 kelompok yaitu Phalenopsis dan Ceratobium yang berjumlah + 1.000_species.
Dendrobium dari kelompok Phalaenanthe umumnya mempunyai bentuk tubuh yang tak terlalu besar sering mengalami masa istirahat (decidous). Tangkai bunga panjang dengan 12 kuntum pada tiap tangkai bunga bundar (kupu- kupu) dicirikan dengan mahkota bunga kompak berdempetan seperti D.bigibbum.
Dendrobium dari kelompok Ceratobium umumnya mempunyai bentuk tubuh besar, sering mencapai 2 m, tapi masa istirahatnya pendek, kadang-kadang tanpa masa istirahat (evergreen) terus berbunga dan beranak. Bunga berbentuk tanduk atau binatang. Jumlah kuntum dapat mencapai 30 - 40 bunga pada satu atau dua tangkai. Bunga dicirikan dengan mahkota bunga memanjang bercelah antara sepal dan petal, seperti D. Jaquelyn Thomas. Ada pula bunga yang berbentuk tipe tebu dicirikan dengan bunga keluar dari batang yang hampir tak berdaun, tidak bertangkai bunga hanya gagang saja, memerlukan suhu rendah untuk merangsang pembungaannya. Contoh D. Nobile.
Hasil persilangan antara kedua kelompok tersebut menghasilkan hibrida-hibrida dengan bentuk tubuh yang tidak terlalu besar, masa istirahat dikurangi atau dihilangkan, bunga bundar atau setengah bundar dengan variasi warna yang beraneka ragam.
Saat ini warna yang disukaii adalah warna- warna yang menyala seperti ungu tua dari Dendrobium Wong Bee Yok, warna putih dari D. Walter Oumai dan kuning dari turunan D. Schullerii

Faktor Ekologis

Jenis anggrek ini membutuhkan cahaya yang tidak langsung sekitar 50 - 65 % cahaya matahari. Sekarang ini telah ada semacam net yang dibuat sesuai dengan persentase cahaya yang dibutuhkan.
Suhu malam hari yang dibutuhkan sekitar kurang lebih 21° untuk merangsang pembungaan, namun apabila mengalami suhu tinggi di malam hari, maka akan mendorong terjadinya anak-anakan baru.

Cara Menanam
Karena merupakan anggrek epifit, maka dapat ditanam pada medium antara lain pakis, potongan kulit kayu, batu-batuan, arang, sabutkelapa, dsb.
Penanaman dalam pot satuan (Individual pot), dengan medium batu bata atau genteng seperempat bagian dalam pot, diatasnya dipergunakan potongan-potongan pakis atau jenis medium lainnya yang telah tersebut diatas.
Beberapa macam pupuk buatan yang disemprotkan pada daun antara lain Hyponex, Vitabloom, Greenzit, Bayfolan, Pokok dan Iain- lain, sesuai dengan aturan dosis pemakaian yang tertulis pada label botol masing-masing. Dosis ini berbeda untuk setiap fase pertumbuhan tanaman.

Perbanyakan Tanaman
Sering dilakukan perbanyakan secara vegetatif dengan memecah rumpun batang- batangnya atau dengan cara stek tunas berakar yang tumbuh di sekitar
ujung batang (disebut juga dengan "keiki") dan ditanam dalam potyang telah terisi , dengan media yang telah disebutkan diatas.

Hama Penyakit
Penyakit yang sering menyerang antara lain adalah " leaf spot " (bercak daun) menyerang daun bagian bawah berupa bulatan kuning, terang kemudian menjadi cakung J berwarma hitam. Dapat diberantas dengan Benomyl, Dithane M-45, karena disebabkan oleh sejenis jamur (Cercospora dendrobii). Hama adalah jenis-jenis yang biasa menyerang pada anggrek umumnya seperti semut, kutu, tungau dan bekicot. Dengan penyumprotan obat-obatan secara kontinue serangan hama penyakit ini dapat dicegah.


Download

 
TERIMA KASIH
Telah Berkunjung
Di Aneka Ragam Budidaya

Suara / Kicau Burung Diambil Dari Berbagai Sumber Dan Media Web Dan Peyedia Penyimpanan File







Budidaya Dan Pemeliharaan Paprika

Pendahuluan
Tanaman cabai pada umumnya mempunyai rasa pedas, namun paprika merupakan salah satu varietas cabai yang tidak mempunyai rasa yang pedas. Cabai manis (Capsicum annum var. grossum)atau paprika merupakan tanaman hortikultura yang baru dikenal di Indonesia. Umumnya paprika dipakai untuk penyedap masakan luar negeri seperti cah paprika daging sapi, paprika campur sosis, udang jeroan, atau disiram saos keju, paprika segar bisa juga dijadikan salad. Dengan meningkatnya kebutuhan paprika dan pasar yang jelas maka diperlukan pengembangannya.

Persiapan
Hal yang perlu dipersiapkan dalam budidaya hidroponik paprika yaitu : media, wadah, nutrien/pupuk, rumah plastik (green house) dan
irigasi.
Media semai terdiri dari campuran pasir, sekam bakar, kompos, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1:1. Media tersebut perlu disterilkan sebelum ditanami. Sterilisasi diperlukan untuk menghindari serangan hama dan penyakit yang masih ada dalam media semai. Media tanam yang dapat digunakan untuk hidroponik paprika adalah arang sekam, cocopit, grodan.
Wadah persemaian dapat berupa tray plastik yang berukuran 24 x 30 cm dan tinggi 5 cm, pot atau polybag berdiameter 7-10 cm dan tinggi 6-7 cm. Untuk wadah penanaman digunakan polybag berukuran 50x40 cm.
Nutrien yang diperlukan terdiri dari unsur hara makro dan mikro. Nutrisi yang digunakan dapat dibuat sendiri ataupun membeli .yang sudah siap pakai. Salah satu formulasi yang digunakan oleh PT. Saung Mirwan adalah berupa larutan stok A, stok B dan stok C. Masing-masing stok terdiri dari unsur :
*       Stok A:
-    0,918 Kg KN03
-    21,6 Kg Ca(N03)2
-    378 g (DPTPA)
*       Stok B:
-    0,783 Kg H2P04
-    17,064 Kg KN03
-    9,99 Kg MgS04
-    4,59 Kg KH2PQ4
-    45,9g MnS04
-    64,8 g/Kg/mi Borax
-    5,4 g CUS04
-    3,24g NaMo
*       Stok C:
-   145 g Urea
Masing-masing stok dilarutkan dalam 90 It air lalu disimpan dalam drum plastik yang berkapasitas 100 It. Apabila hendak dilakukan penyiraman, dari masing-masing stok diambil 1 liter dan campurkan ke dalam drum yang telah berisi 297 liter air. Volume campuran menjadi 300 It dan siap dipompa untuk dialirkan/disiramkan ke tanaman rumah plastik untuk persemaian dan pertanaman baik dengan sistem irigasi manual maupun irigasi tetes.

Pemeliharaan
Dalam budidaya paprika secara hidroponik, pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman dan pemupukan, pembentukan dan pemilihan batang produktif, pengajiran dan pelilitan, pewiwilan, serta pengendalian hama dan penyakit.
1. Penyiraman dan pemupukan
Penyiraman dan pemupukan dapat dilakukan secara manual atau secara irigasi tetes. Pemberian larutan hara dilakukan antara pukul 09.00 - 16.00. Frekuensi pemberian sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setiap hari.
Jumlah kebutuhan larutan
-      Fase muda sebanyak 100 ml
-      Fase berbunga sebanyak 150 ml
-      Fase berbuah sebanyak 200-300 ml
-      Fase dibongkar sebanyak 100 ml
Larutan hara yang diberikan hendaknya kepekatannya berkisar antara 1,6 - 1,7 dan diharapkan peningkatannya hanya 2,0 - 2,5 saat dalam media arang sekam. Peningkatan EC (Electric Conductivity) terjadi sebab adanya kristalisasi garam-garam yang tidak terserap oleh tanaman. Pengukuran EC ini penting karena dapat berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan tanaman. Apabila EC rendah, maka pertumbuhan vegetatif tanaman akan lebih cepat dibandingkan dengan EC tinggi.
2.   Pembentukan dan pemilihan batang produktif
Pada umur 3 minggu atau di atas daun ke 10,
pilih 2 cabang utama yang kuat, cabang yang tidak diinginkan dipotes dengan tangan.
3.   Pengajiran dan pelilitan
Tanaman paprika yang dibudidayakan secara hidroponik harus diberi penopang agar diperoleh bentuk tanaman yang sesuai dengan kegiatan produksi secara maksimal. Pembuatan ajir dimulai saat tanaman berusia 1 minggu. Penopang/ajir bisa terbuat dari tali rami atau tali lainnya yang tidak tajam. Ujung atas tali diikatkan pada kawat horizontal yang dibuat secara khusus pada batang atas greenhouse, setiap tanaman memerlukan dua buah penopang/ajir karena batang utama yang dipelihara ada dua. Tanaman paprika akan terus tumbuh semakin tinggi mengikuti ajir. Agar tali ajir tetap melekat pada batang tanaman, maka setiap dua hari harus dilakukan pemutaran atau pelilitan pada cabang utama.
Cara pemutaran yang baik yaitu dengan memutar batang mengikuti tali, bukan tali yang dililitkan mengikuti batang. Pemutaran dilakukan searah jarum jam agar seragam dan mudah dilakukan.
4.    Pewiwilan atau perompesan
Pewiwilan dilakukan terhadap tunas air, cabang yang tidak dipelihara, bunga yang telah layu, dan buah yang rusak. Umumnya kegiatan pewiwilan dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemutaran tali atau pelilitan ajiryaitu setiap 2 hari sekali.
5.    Pengendalian hama dan penyakit
Hama yang sering menyerang adalah thrips, tungau, aphids, ulat grayak, keong serta penyakit yang sering menyerang adalah penyakit layu, bercak daun, embun tepung, antraknose dan virus.
6.    Panen
Paprika mulai dipanen pertama kali saat berumur 60 HST. Pemanenan ini dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu :
a.   Matang hijau; warna buah hijau mengkilap, daging buah keras dan tebal, buah mudah dilepas dari tangkai, sehat dan tidak cacat, serta bebas dari hama dan penyakit. Kekerasan dan ketebalan buah dapat diketahui dengan cara memijit dan mengetuknya.
b.  Matang berwarna; warna buah 60 % sudah merah/ kuning/ hijau (untuk ekspor), daging buah tebal, sehat dan tidak cacat, serta bebas dari hama dan penyakit.

Perbanyakan Benih jahe

Pendahuluan
Menurut para ahli, jahe (zingiber officinale, Rosc.) berasala dari Asia tropik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu, ke-dua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe, terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obat tradisional.


Bagian terpenting yang mempunyai nilai ekonomi pada tanaman jahe, adalah akar tongkatnya yang lebih dikenal dengan sebutan rimpang. Jika rimpang tersebut dipotong, nampak warna daging rimpang yang bervariasi, mulai putih kekuningan, kuning atau jingga tergantung pada klonnya. Pada umumnya rasa jahe pedas, karena mengandung senyawa gingerol. Kandungan gingerol dipengaruhi oleh umur tanaman dan agroklimat setempat di mana tanaman jahe tumbuh, sedangkan aroma jahe disebabkan oleh adanya minyak atsiri yang umumnya berwarna kuning dan sedikit kental.
Rimpang jahe mengandung 0,8-3,3 % minyak atsiri dan + 3 % oleoresin, tergantung kepada jahe yang bersangkutan.
Adapun zat-zat yang tergantung di dalam rimpangnya antara lain vitamin A, B dan C, lemak, protein, pati, damar, asam organik, oleoresin, gingerin, zingerol, zingiberin dan feladren.
Salah satu upaya untuk memperoleh rimpang jahe yang tinggi dalam kuantitas dan kualitas adalah dengan pengadaan benih jahe yang tepat, baik dan sehat.

Jenis Jahe

Jahe dapat dibedakan jenisnya dari aroma, warna, bentuk dan besarnya rimpang. Atas dasar hal tersebut, maka telah dikenal 3 (tiga) klon jahe yaitu sebagai berikut :
  1. Jahe besar (Z. officinale Sp) ;
  2. Tipe klon jahe besar di Jawa Barat dikenal dengan sebutan jahe badak dan jahe gajah, sedangkan di Bengkulu dikenal dengan nama jahe kombongan.
    Sesuai dengan sebutannya, jahe besar memang mempunyai rimpang lebih besar dibandingkan ke-dua klon lainnya. Berwarna kuning atau kuning muda, seratnya sedikit dan lembut. Aromanya kurang tajam dan rasanya kurang pedas. Jahe ini mengandung minyak atsiri 0,82-1,68 % dihitung atas dasar berat kering. Penggunaan untuk rempah-rempah, minuman dan makanan.
  3. Jahe kecil (Z. officinale Var. Amarum) ;
  4. Rimpang jahe kecil lebih besar daripada jahe merah, akan tetapi lebih kecil daripada jahe besar. Bentuk agak pipih, berwarna putih, seratnya lembut dan aromanya tidak tajam. Jahe ini mengandung minyak atsiri 1,5-3,3 % dari berat ringannya. Jahe kecil digunakan sebagai bahan baku minuman, rempah-rempah dan penyedap makanan. Di samping jahe kecil, namun masih tetap dalam satu klon adalah jahe kuning yang sering disebut jahe emprit.
  5. Jahe merah (Z. officinale Var. Rubrum) ;
  6. Tipe klon jahe merah sering disebut jahe sunti. Rimpangnya paling kecil dibandingkan ke-dua klon lainnya, berwarna merah sampai jingga muda dan seratnya kasar, aroma tajam dan rasanya sangat pedas. Oleh karena itu, harga jahe merah ini paling mahal bila dibandingkan jahe lainnya. Kandungan minyak atsiri 2,58-2,72 % dihitung atas dasar berat kering. Penggunaannya lebih banyak untuk industri obat-obatan.  
Persyaratan Yang Harus Dipenuhi
Perbanyakan benih jahe dari keluarga zingiberaceae pada umumnya diperbanyak secara vegetatif, dengan memakai potongan-potongan rimpangnya. Secara sepintas cukup mudah mendapatkan bibit jahe, karena di Pasar kecil pun bisa diperoleh. Meskipun demikian, mengingat nilai ekonomis jahe terletak pada rimpang-rimpangnya, maka tidak boleh gegabah dalam memilih bibit. Persyaratan penting yang perlu dipenuhi oleh setiap Penangkar/ Petugas Benih/ Petani jika hasil rimpangnya akan dijadikan benih diantaranya sebagai berikut :

  1. Varietas jelas ;
    Varietas jahe yang akan diperbanyak terlebih dahulu ditetapkan sesuai tujuan produksi. Tanaman jahe yang bertujuan untuk memproduksi rimpang segar, maka varietas jahe besar lebih sesuai dibandingkan dua varietas lainnya, sedangkan untuk membuat rempah-rempah dan minyak atsiri diutamakan varietas jahe merah.
  2. Umur cukup ;
    1. Bahan bibit diambil langsung dari Kebun (bukan dari Pasar jahe konsumsi)
    2. Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 tahun).
    3. Kandungan seratnya tinggi dan kasar, warna kulit mengkilap, menampakkan tanda bertunas serta dipilih pula dari tanaman yang sehat, tidak terluka atau lecet.
  3. Bebas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) ;
    Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus bebas dari OPT, seperti :
    1. Bakteri pseudimonas solanacearum, menyebabkan penyakit layu karena menyerang rimpang dan titik tumbuh. Untuk memusnahkan bakteri yang masih berada di luar kulit, digunakan bakterisida sebelum rimpang di tanam;
    2. Jamur rhizoctonia solani, menyebabkan penyakit layu, menyerang tanaman di lapangan terutama pada musim penghujan. Untuk mengatasi serangan jamur dapat dilakukan penyemprotan secara rutin dengan fungisida seperti cobox dan difolatan;
    3. Hama lalat rimpang mimegralla coerukitrons dan eumerus figurans, tanaman jahe mulai diserang hama ini setelah berumur 5 bulan. Serangan berat mengakibatkan tanaman layu dan kering, bibit rimpang rusak, sehingga rimpang terlihat utuh tetapi didalamnya lapuk seperti gumpalan tanah.
  4. Ukuran bersyarat dan kebutuhan benih ;
    Ukuran bibit stek rimpang sedikitnya memiliki 3 mata tunas, panjang 3-7 Cm dan berat 25-80 Gram tiap potongnya. Sedangkan, kebutuhan bibit per hektar antara 1-3 Ton jahe segar dan kebutuhan tersebut tergantung pada ukuran bibit klon yang dipakai dan jarak tanam yang dipergunakan.
  5. Sortasi, penyimpanan dan pengujian ;
    Untuk mendapatkan benih yang baik diperlukan beberapa tahap perlakukan pada rimpang yang baru di panen, yaitu sebagai berikut :
    1. Sortasi ;
      Setelah tanaman jahe di panen, segera rimpangnya dibersihkan dari tanah maupun kotoran lainnya yang melekat, lalu rimpang-rimpang yang sudah bersih itu ditebar dan dikeringanginkan pada lantai jemur selama 4-6 hari, minimal 4 jam per hari dan setelah itu baru dilakukan sortasi.
      Dasar sortasi adalah penampilan atau bentuk serta ukuran dan warna bibit. Ketika tahap ini dilakukan tidak satu pun rimpang yang tunasnya telah tumbuh. Setelah sortasi didapatkan tiga ukuran rimpang yaitu besar, sedang dan kecil. Juga kondisi rimpang tidak lecet atau memar, bersih dan bebas dari hama dan penyakit. Tujuan sortasi di samping mendapatkan jaminan kepastian mutu bibit juga keaslian maupun keseragaman.
    2. Penyimpanan ;
      Setelah bibit di sortasi, selanjutnya dilakukan penyimpanan. Sebaliknya di cari tempat yang teduh namun kering dan tidak langsung kena sinar matahari guna menyimpan bibit tadi. Cara penyimpanan cukup dengan ditumpuk tapi tetap memperhatikan sirkulasi udara. Penumpukan yang terlalu tebal justru akan merangsang tumbuhnya cendawan.
    3. Pengujian ;
      Perlakuan terakhir adalah pengujian, yang pada umumnya jarang atau tidak pernah dilaksanakan padahal sangat menentukan. Dasar pengujian memperhatikan dua hal yaitu kesehatan bibit dan daya tumbuhnya.
      Bibit yang sehat adalah bibit yang tidak menunjukkan gejala berlendir atau membusuk dan tidak pula terdapat bercak-bercak baik pada kulit rimpang maupun pada bagian dalamnya.
      Pengujian daya tumbuh dilaksanakan dengan pengambilan sampling bibit, kemudian di tanam pada media yang telah disiapkan.Apabila daya tumbuhnya minimal 85 % di mana tunas telah mengeluarkan daun pertama, berarti telah lolos dari tahap pengujian.
  6. Penanaman untuk benih ;
    Untuk memproduksi benih yang bermutu diusahakan di suatu tempat yang memiliki keadaan lingkungan (air, tanah dan keamanan) yang mendukung keberhasilan perbenihan. Pertanaman tersebut memerlukan :
    1. Pengolahan tanah dan pemupukan yang tepat, pupuk kandang 20-25 Ton/ Ha + TSP 200 Kg/ Ha + KCL 60-100 Kg/ Ha;
    2. Pupuk susulan pertama dilakukan pada umur 40-60 HST, di mana diberikan Urea 65-100 Kg/ Ha + KCL 60-100 Kg/ Ha;
    3. Pupuk susulan ke-dua dilakukan pada umur 3 bulan HST, di mana diberikan Urea 65-100 Kg/ Ha;
    4. Penyiraman dilaksanakan pada waktu air tidak mencukupi (tidak turun hujan);
    5. Pemeliharaan dari gangguan OPT;
    6. Penggunaan bahan tanaman yang tidak tercampur kotoran/ varietas lain.
  7. Persemaian sementara ;
    Kegiatan terakhir dalam penanganan benih jahe adalah seleksi benih di persemaian. Semua rimpang benih ditunaskan dahulu dalam persemaian atau tempat yang memenuhi persyaratan untuk memacu pertumbuhan mata tunas. Tempat penunasan harus bersih dan sehat kondisinya dan selalu tersedia air setiap saat untuk penyiraman.
    Salah satu cara menunaskan rimpang adalah menggunakan alang-alang dan jerami kering, dengan cara :
    1. Rimpang disusun berlapis-lapis di antara jerami maksimal 5 lapis;
    2. Penyiraman menurut kebutuhan serta dijaga agar persemaian tetap basah;
    3. Penunasan dianggap cukup bila semua/ sebagian besar tunas sudah tumbuh 1-2 cm;
    4. Rimpang dipotong-potong dengan pisau sesuai ukuran dengan jumlah mata tunas paling sedikit dua;
    5. Benih terpilih direndam dalam larutan agrymicin 0,1 % selama + 10 jam dan dikeringanginkan + 6-10 jam, kemudian ditaburi abu dapur untuk melindungi bekas sayatan pisau dari cuaca dan Organisme Penggangu Tanaman.

Tanaman Buah

Artikel Lainnya »

Hewan Peliharaan

Artikel Lainnya »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Aneka Ragam Budidaya - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger